BAB II
MENGEKSPLORITASI MOTIVASI
A. Pengertian
Motivasi
Motivasi
adalah proses yang memberi semangat, arah, dan kegigihan prilaku. Artinya,
prilaku yang termotivasi adalah prilaku yang penuh energy,terarah dan bertahan
lama.Motivasi adalah aspek penting dari pengajaran dan pembelajaran. Murid yang
tidak punya motivasi tidak akan berusaha keras untuk belajar. Murid yang
bermotivasi tinggi senang ke sekolah dan menyerap proses belajar.
B. Perspektif
tentang Motivasi
Perspektif Psikologis menjelaskan
motivasi dengan cara yang berbeda berdasarkan perspektif yang berbeda pula. Di
sini kita akan membahas empat perspektif: behavioral, humanistis, kognitif, dan
social.
Perspektif behavioralmenekankan
imbalan dan hukuman eksternal sebagai kunci dalam menentukan motivasi
murid.Menurut Emmer dkk, Pendukung
penggunaan insentif menekankan bahwa insentif dapat menambah minat atau
kesenangan pada pelajaran, dan mengarahkan perhatian pada prilaku yang tepat
dan menjauhkan mereka dari prilaku yang tidak tepat.Insentif adalah peristiwa
atau stimuli positif atau negative yang dapat memotivasi prilaku murid.
Perspektif
Humanistis menekankan pada kapasitas murid untuk mengembangkan kepribadian,
kebebasan memilih nasib mereka dan kualitas positif.Perspektif ini berkaitan
erat dengan pandangan Abraham Maslow bahwa kebutuhan dasar tertentu harus
dipuaskan dahulu sebelum memuaskan kebutuhan yang lebih tinggi.
Perspektif Kognitif menekankan arti
penting dari penentuan tujuan, perencanaan dan monitoring kemajuan menuju suatu
tujuan. Menurut perspektif ini pemikiran murid akan memandu motivasi mereka.
Perspektif social, Kebutuhan
afiliasi atau keterhubungan adalah motif untuk berhubungan dengan orang lain
secara aman. Ini membutuhkan pembentukan, pemeliharaan dan pemulihan hubungan
personal yang hangat dan akrab.Kebutuhan afiliasi murid tercermin dalam
motivasi mereka untuk menghabiskan waktu bersama teman, kawan dekat,
keterikatan mereka dengan orang tua, dan keinginan untuk menjalin hubungan
positif dengan guru.
Murid sekolah yang punya hubungan
yang penuh perhatian dan suportif biasanya memiliki sikap akademik yang positif
dan lebih senang bersekolah. Menurut McCombs
dalam sebuah studi berskala luas, salah satu factor terpenting dalam
motivasi dan prestasi murid adalah persepsi mereka mengenai apakah hubungan
mereka dengan guru bersifat positif atau tidak.
MOTIVASI UNTUK MERAIH SESUATU
A. Motivasi Ekstrinsik dan Intrinsik
Motivasi Ekstrinsik adalah
melakukan sesuatu demi sesuatu yang lain (cara untuk mencapai tujuan), Motivasi
ini sering dipengaruhi oleh insentif eksternal seperti imbalan dan hukuman.
Misalnya, murid mungkin belajar keras menghadapi ujian untuk mendapatkan nilai
yang baik. (tujuan itu
sendiri) Misalnya, murid mungkin belajar menghadapi ujian karena dia senang
pada mata pelajaran yang diujiankan itu. Jadi, Perspektif Behavioral menekankan
arti penting dari motivasi ekstrinsik dalam prestasi ini, sedangkan pendekatan
Kognitif dan Humanistis lebih menekankan pada arti penting dari motivasi
intrinsic dalam prestasi ini.
Menurut Wigfield&EcclesBukti terbaru mendukung pembentukan iklim kelas
dimana murid bias termotivasi secara intrinsic untuk belajar saat mereka diberi
pilihan, senang menghadapi tantangan yang sesuai dengan kemampuan mereka, dan
mendapat imbalan yang mengandung nilai informasional tetapi bukan dipakai untuk
control. Pujian juga bias memperkuat motivasi intrinsic murid. Kenapa ini bisa
terjadi? Nah, disini kita akan membahas 2 jenis motivasi intrinsic:
1.
Motivasi
intrinsic dari determinasi diri dan pilihan personal
Dalam pandangan ini murid
ingin percaya bahwa mereka melakukan sesuatu karena kemauan sendiri, bukan
karena kesuksesan atau imbalan eksternal. Motivasi internal dan minat intrinsic
dalam tugas sekolah naik apabila murid punya pilihan dan peluang untuk
mengambil tanggung jawab personal atas pembelajaran mereka, missalnya; murid
sains di SMA yang diajak untuk mengorganisir sendiri eksperimennya, mereka akan
lebih perhatian dan berminat terhadap peraktek laboraturium ketimbang murid
yang diharuskan mengikuti instruksi dan aturan guru yang ketat.
2.
Motivasi
intrinsic dari pengalaman optimal
Pengalaman optimal itu
terjadi ketika orang merasa mampu menguasai dan berkonsentrasi penuh saat
melakukan suatu aktifitas dan juga pengalaman optimal ini terjadi ketika
individu terlibat dalam tantangan yang mereka anggap tidak terlalu sulit tetapi
juga tak terlalu mudah.
Anggapan tentang level
tantangan dan keahlian dapat menghasilkan hasil yang berbeda-beda, flow atau
pengalaman optimal paling mungkin terjadi di area dimana murid ditantang dan
menganggap diri mereka punya keahlian yang tinggi, ketika keahlian murid tinggi
tetapi aktivitas yang dihadapinya tidak menantang hasilnya adalah kejemuan.
Ketika level tantangan dan keahlian adalah rendah, murid merasa apati. Dan
ketika murid menghadapi tugas sulit yang dirasakan tidak bisa mereka tangani,
maka mereka merasa cemas.
Imbalan Ekstrinsik
dapat menaikkan dan menurunkan motivasi intrinsic si murid, ketika si pendidik memberikan sebuah hadiah
yang mengandung informasi tentang kemampuan murid maka motivasi intrinsic dapat
meningkat dengan cara meningkatkan perasaan bahwa diri mereka kompeten. Namun,
umpan balik negative, seperti kritik, yang mengandung informasi bahwa murid
tidak pandai, maka dapat melemahkan motivasi intrinsic terutama apabila si
murid meragukan kemampuan mereka untuk menjadi kompeten.
3.
Pergeseran
Devlopmental dalam Motivasi Ekstrinsik dan Intrinsik
Saat
murid pindah dari SD ke sekolah menengah motivasi intrinsic mereka menurun,
penurunan motivasi intrinsic terbesar dan peningkatan motivasi ekstrinsik
terbesar terjadi diantara grade enam dan tujuh.Saat murid naik dari grade enam
sampai delapan, makin banyak murid yang mengatakan bahwa sekolah itu
membosankan dan tidak relevan.Mengapa pergeseran kearah motivasi ekstrinsik ini
terjadi saat murid naik ke kelas yang lebih tinggi?Salah satu penjelasannya
adalah karena praktik kenaikan kelas memperkuat orientasi motivasi eksternal. Artinya,
saat murid bertamabah usia, mereka terkungkung dalam penekanan pada tujuan naik
kelas dan karenanya motivasi internalnya turun.
B.
Proses
Kognitif Lainnya
Proses Kognitif lainnya yang
terlibat dalam memotivasi murid untuk belajar ada empat proses:
1)
Atribusi
Teori
atribusi menyatakan bahwa dalam usaha mereka memahami prilaku atau kinerjanya
sendiri, orang-orang termotivasi untuk menemukan sebab-sebab yang
mendasarinnya.Atribusi adalah sebab-sebab yang dianggap menimbulkan hasil.
Untuk melihat bagaimana
atribusi memengaruhi prestasi, bandingkan cerita 2 murid, antara Jane dan Susan
yang gagal dalam ujian matematika.
Apa sterategi terbaik
yang bisa dipakai guru untuk membantu murid seperti Susan untuk mengubah
atribusinya?
Psikolog pendidikan
menganjurkan strategi ini digunakan untuk membantu mereka:
a) Berkonsentrasi
pada tugas sehingga tidak takut gagal
b) Mengatasi
kegagalan dengan memperbaiki kembali langkah-langkah mereka untuk menemukan
kesalahan atau menganalisis problem untuk menemukan pendekatan lain yang lebih
baik.
c) Mengatribusikan
kegagalan mereka pada kurangnya usaha, bukan pada kurangnya kemampuan.
2)
Motivasi
untuk menguasai keahlian
Penguasaan ini sebagai
salah satu dari tiga tipe orientasi: Penguasaan, tak berdaya, dan kinerja. Murid yang berorientasi untuk menguasai dan tak berdaya tidak berbeda
dalam kemampuan umumnya.Akan tetapi, mereka punya teori yang berbeda tentang
kemampuan mereka. Murid yang berorientasi untuk menguasai percaya bahwa
kemampuan mereka bisa di ubah dan ditingkatkan. Mereka setuju dengan pernyataan
”Kecerdasan bisa ditingkatkan selama kalian menginginkannya”. Sebaliknya, anak
yang berorientasi tak berdaya
percaya bahwa kemampuan pada dasarnya tetap dan tidak bisa diubah. Mereka
setuju dengan pernyataan”Anda bisa mempelajari hal baru, namun kecerdasan anda
akan tetap sama”.
Sedangkan, murid yang
berorientasi kinerja lebih
memperhatikan hasil ketimbang proses. Bagi murid yang berorientasi kinerja,
kemenangan itu penting dan kebahagiaan dianggap sebagai hasil kemenangan.Jika
mereka berusaha lalu gagal, mereka sering menganggap kegagalan itu sebagai
bukti dari kemampuan yang rendah. Dilema ini membuat murid melakukan sesuatu
yang melindungi diri mereka dari kesan tidak pandai tetapi uaya ini akan
mengganggu pembelajaran mereka dalam jangka panjang. Biasanya untuk menghindari
kesan tidak mampu, beberapa murid tidak mau mencoba atau menipu(misalnya
mencontek), yang lainnya mungkin menggunakan sterategi lain seperti
menghindari, mencari-cari alasan, bekerja setengah hati, atau menentukan tujuan
yang tidak realistis.
Dibanding
dengan murid yang berorientasi untuk menguasai yang penting bagi mereka sudah
berinteraksi secara efektif dengan lingkungannya,mereka tetap berharap berhasil
tapi bagi mereka kemenangan itu tidak sepenting seperti yang dibayangkan oleh
murid yang berorientasi kinerja. Bagi mereka pengembangan keahlian jauh lebih
penting.
Self-efficacy adalah
keyakinan bahwa”Aku bisa”. Murid
dengan self-efficacy rendah mungkin menghindari banyak tugas belajar, khususnya
yang menantang dan sulit, sedangkan murid dengan level self-efficacy yang
tinggi mau mengerjakan tugas-tugas seperti itu, ia lebih mungkin untuk tekun
berusaha menguasai tugas pembelajaran ketimbang murid yang berlevel rendah.
Self efficacy Anda
sebagai guru akan berpengaruh besar terhadap kualitas pembelajaran murid Anda.
Guru dengan Self efficacy rendah sering kali kebingungan menghadapi problem
kelas, ia juga tidak punya rasa percaya diri dalam kemampuan mereka untuk
menguasai kelas, menjadi strees dan marah pada prilaku murid yang tidak tepat,
pesimis terhadap kemampuan murid untuk berkembang, memandang pekerjaan mereka sebagai
rutinitas belaka, sering menggunakan model hukuman dan larangan, DLL
4)
Penentuan
tujuan, perencanaan dan monitoring diri
Self efficacy dan
prestasi dapat meningkat jika murid menentukan tujuan jangka pendek yang
spesifik dan menantang.Tujuan nonspesifik adalah seperti “Aku ingin
sukses”.Tujuan yang lebih kongkrit dan spesifik adalah seperti”Aku ingin
mendapat rangking ssatu semester ini”. Murid dapat menentukan tujuan jangka
panjang(distal) maupun jangka pendek(proximal).
Strategi lainnya yang
baik adalah mendorong murid untuk menentukan tujuan yang menantang.Tujuan yang
menantang adalah komitmen untuk meningkatkan diri, minat dan keterlibatan dalam
aktivitas biasanya dipicu oleh suatu tantangan.Tujuan yang mudah diraih
biasanya tidak begitu menarik dan tidak banyak membutuhkan banyak usaha. Akan
tetapi, seharusnya disesuaikan dengan level kemampuan murid yang optimal. Jika
tujuan tidak realistis, hasilnya adalah kegagalan yang menurunkan rasa percaya
diri murid.
C.
Kecemasan
dan Prestasi
Kecemasan (anxiety) adalah perasaan
takut dan kegundahan yang tidak jelas dan tidak menyenangkan. Adalah normal
jika murid kadang merasa cemas atau khawatir saat menghadapi kesulitan
disekilah, seperti saat akan mengerjakan ujian.
Beberapa anak mengidap kecemasan tingkat
tinggi lantaran orang tua nya membebankan standar prestasi yang tidak realistis
pada diri anak mereka.Banyak anak bertambah cemas saat mereka naik kelas,
karena mereka menghadapi lebih banyak ulangan, perbandingan social, dan
beberapa kegagalan.
Program intervensi terhadap
kecemasan yang difokuskan pada aspek kekhawatiran, dimana program ini berusaha
mengganti pemikiran destruktif dan negative tentang kecemasan dengan pemikiran
yang lebih positif dan konstruktif.
D.
Ekspektasi
Guru
Motivasi dan kinerja murid
dipengaruhi oleh ekspektasi guru. Guru seringkali punya ekspektasi lebih
positif untuk murid berkemampuan tinggi ketimbang murid berkemampuan rendah.
Ekspektasi ini kemungkinan akan mempengaruhi sikap dan prilaku murid terhadap
guru.
Salah satu strategi pengajaran yang
penting adalah memantau ekspektasi guru dan pastikan guru punya ekspektasi
positif terhadap semua murid termasuk yang berkemampuan rendah.
Motivasi,
Hubungan Dan Konteks Sosiokultural
Motivasi
mengandung komponen social, selain motif untuk berprestasi, murid juga punya
motif social. Bahasan kita tentang dimensi social dari motivasi ini akan
difokuskan pada:
1.
Motif
social
Motif social adalah kebutuhan dan
keinginan yang dikenal melalui pengalaman dengan dunia social. Latar belakang social anak akan
mempengaruhi kehidupan mereka disekolah, murid yang menunjukkan prilaku yang
kompeten secara social lebih mungkin unggul secara akademis ketimbang murid
yang tidak kompeten.
Kebutuhan
social murid direfleksikan dalam keinginan mereka untuk popular dimata kawan
sebaya dan kebutuhan punya satu kawan akrab atau lebih, dan keinginan untuk
menarik dimata orang yang mereka sukai.Setiap murid mempunyai kebutuhan
afiliasi yang berbeda-beda.
Di
SMP dan SMA beberapa murid merasa ada yang hilang dalam kehidupan mereka jika
mereka tidak punya pacar untuk diajak kencan di malam minggu, ada juga yang
tidak punya kebutuhan afiliasi sekuat itu, mereka tidak peduli apakah mereka
punya banyak kawan atau tidak,dan tidak cemas jika mereka tidak punya pacar.
Pada masa SD murid lebih
termotivasi untuk menyenangkan orang tuanya ketimbang menyenagkan temannya,
menjelang akhir masa SD penerimaan orangtua dan teman berada pada posisi yang
sama dalam system motif anak. Pada grade delapan atau Sembilan(sekolah
menengah), penerimaan teman lebih penting ketimbang penerimaan orang tua. Pada
grade 12, penerimaan teman kurang penting karena murid sudah mulai membuat
keputusan sendiri.
2.
Hubungan
Sosial
Hubungan murid dengan
orangtua,teman sebaya, guru dan mentor dan orang lain dapat mempengaruhi
prestasi dan motivasi social mereka.
a.
Hubungan
orangtua dan motivasi murid:
v Karakteristik
demografis
Orangtua yang
berpendidikan tinggi percaya bahwa keterlibatan mereka dalam pendidikan anak
adalah penting.Mereka lebih berpartisipasi dalam pendidikan anaknya dan member
stimuli intelektual dirumahnya. Ketika orangtua lebih banyak menghabiskan waktu
bersama orang lain ketimbang untuk anaknya motivasi anak akan menurun tajam. Prestasi murid dapat menurun apabila
tinggal bersama orang tua yang waktunya dihabiskan untuk bekerja dan tinggal
dalam keluarga besar.
v Praktik pengasuhan anak:
¨ Mengenal
betul si anak dan memberi
tantangan dan dukungan dalam kadar yang tepat.
¨ Memberikan
iklim emosional yang positif, yang memotivasi anak untuk menginternalisasikan
nilai dan tujuan orang tua.
¨ Menjadi
model prilaku yang member motivasi: bekerja keras dan gigih menghadapi
tantangan.
v Privasi
pengalaman spesifik di rumah
Selain praktek
pengasuhan umum, orangtua dapat memberikan pengalaman spesifik di rumah untuk
membantu si anak menjadi lebih termotivasi. Membacakan buku untuk anak
prasekolah dan member materi bacaan di rumah akan memberi efek positif pada prestasi dan motivasi membaca anak.
b.
Hubungan
Teman Sebaya
Teman sebaya dapat
mempengaruhi motivasi anak melalui perbandingan social, kompetensi dan motivasi
social, belajar bersama, dan pengaruh kelompok teman sebaya. Murid dapat membandingkan dirinya
sendiri dengan teman sebaya mereka secara akademik dan social. Teman sebaya dapat membantu satu sama
lain dalam mempelajari materi pelajaran melalui diskusi kelompok kecil. Dan
tutoring teman sebaya seringkali meningkatkan prestasi bagi tutor maupun murid
yang diberikan tutorial.
c.
Hubungan
dengan Guru
Seperti yang telah kita
jelaskan pada self efficacy guru sangat mempengaruhi motivasi murid.
3.
Konteks
Sosiokultural
Dalam bagian ini telah banyak
dibahas oleh teman kita kelompok 7, dimanalatar belakang status sosioekonomi,
etnis dan gender bisa mempengaruhi motivasi dan prestasi si murid.
MURID
BERPRESTASI RENDAH DAN SULIT DI DEKATI
Salah satu aspek yang sulit dalam
mengajar adalah bagaimana membantu murid yang berprestasi rendah dan susah
didekati. Jere Brophy mendeskripsikan strategi untuk meningkatkan motivasi 2 jenis murid yang
susah didekati dan berprestasi rendah:
a) Murid
yang tidak semangat dan kurang percaya diri dan kurang bermotivasi untuk
belajar.
Murid
jenis ini mencakup:
Ø Murid
berprestasi rendah dengan ekspektasi prestasi yang rendah
1.
Murid
dengan sindrom kegagalan
2.
Murid
yang termotivasi untuk melindungi harga diri dengan menghindari kegagalan
b) Murid
yang tidak tertarik atau terasing
Berprestasi
disekolah bagi mereka adalah hal yang tidak penting. Untuk mendekati murid yang
apatis ini dibutuhkan usaha terus menerus untuk mensosialisasikan kembali sikap
mereka terhadap prestasi sekolah.
BAB III
KESIMPULAN
Motivasi adalah proses memberi
semangat, arah, dan kegigihan prilaku. Artinya, prilaku yang termotivasi adalah
prilaku yang penuh energi terarah dan bertahan lama. Perspektif behavorial
tentang motivasi menekankan bahwa imbalan dan hukuman eksternal adalah faktor
utama yang menentukan motivasi murid. Perspektif humanistis menekankan
kapasitas pertumbuhan personal kita, kebebasan kita untuk memilih nasib, dan
kualitas positif kita. Dalam perspektif kognitif adalah pemikiran murid akan
memandu motivasi mereka yaitu keyakinan murid mereka dapat mengontrol
lingkungan mereka secara efectif. Perspektif sosial ia lebih menekankan
perlunya afiliasi.
Motivasi dalam meraih sesuatu:
motivasi ekstrinsik adalah melakukan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu yang
lain (cara untuk ke tujuan). Motivasi intrinsik adalah motivasi internal untuk
melakukan sesuatu demi sesuatu itu sendiri (tujuan itu sendiri). Teori atribusi
menyatakan bahwa individu termotivasi untuk menemukan sebab-sebab dari
prilakudalam rangka memahami prilaku.
Self-efficacy (kecakapan diri) adalah
keyakinan bahwa seseorang dapat menguasai situasi dan memproduksi hasil
positif.
Kecemasan adalah perasaan takut yang
samar dan tidak menyenangkan. Ekspektasi guru dapat sangat mempengaruhi
motivasi dan prestasi murid.
Hubungan dan konteks sosiokultural
dapat menguatkan atau melemahkan motivasi. Sedangkan motif sosial adalah
kebutuhan dan keinginan yang dipelajari melalui pengalaman dengan sosial.
Membantu murid berprestasi rendah dan
sulit dijangkau dapat dilakukan dengan cara membangun hubungan yang positif
dengan murid tersebut, membuat sekolah menjadi lebih menarik bagi mereka,
strategi mengajar yang lebih menyenangkan, dan mempertimbangkan penggunaan
mentor dari komunitas atau murid yang lebih tua sebagai orang pendukung bagi
murid.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar