Senin, 06 Oktober 2014

Psikologi Pendidikan



BAB II
MENGEKSPLORITASI MOTIVASI
A.     Pengertian Motivasi
Motivasi adalah proses yang memberi semangat, arah, dan kegigihan prilaku. Artinya, prilaku yang termotivasi adalah prilaku yang penuh energy,terarah dan bertahan lama.Motivasi adalah aspek penting dari pengajaran dan pembelajaran. Murid yang tidak punya motivasi tidak akan berusaha keras untuk belajar. Murid yang bermotivasi tinggi senang ke sekolah dan menyerap proses belajar.
B.     Perspektif tentang Motivasi
Perspektif Psikologis menjelaskan motivasi dengan cara yang berbeda berdasarkan perspektif yang berbeda pula. Di sini kita akan membahas empat perspektif: behavioral, humanistis, kognitif, dan social.

Perspektif behavioralmenekankan imbalan dan hukuman eksternal sebagai kunci dalam menentukan motivasi murid.Menurut Emmer dkk, Pendukung penggunaan insentif menekankan bahwa insentif dapat menambah minat atau kesenangan pada pelajaran, dan mengarahkan perhatian pada prilaku yang tepat dan menjauhkan mereka dari prilaku yang tidak tepat.Insentif adalah peristiwa atau stimuli positif atau negative yang dapat memotivasi prilaku murid.

Perspektif Humanistis menekankan pada kapasitas murid untuk mengembangkan kepribadian, kebebasan memilih nasib mereka dan kualitas positif.Perspektif ini berkaitan erat dengan pandangan Abraham Maslow bahwa kebutuhan dasar tertentu harus dipuaskan dahulu sebelum memuaskan kebutuhan yang lebih tinggi.

Perspektif Kognitif menekankan arti penting dari penentuan tujuan, perencanaan dan monitoring kemajuan menuju suatu tujuan. Menurut perspektif ini pemikiran murid akan memandu motivasi mereka.

Perspektif social, Kebutuhan afiliasi atau keterhubungan adalah motif untuk berhubungan dengan orang lain secara aman. Ini membutuhkan pembentukan, pemeliharaan dan pemulihan hubungan personal yang hangat dan akrab.Kebutuhan afiliasi murid tercermin dalam motivasi mereka untuk menghabiskan waktu bersama teman, kawan dekat, keterikatan mereka dengan orang tua, dan keinginan untuk menjalin hubungan positif dengan guru.

Murid sekolah yang punya hubungan yang penuh perhatian dan suportif biasanya memiliki sikap akademik yang positif dan lebih senang bersekolah. Menurut McCombs dalam sebuah studi berskala luas, salah satu factor terpenting dalam motivasi dan prestasi murid adalah persepsi mereka mengenai apakah hubungan mereka dengan guru bersifat positif atau tidak.
MOTIVASI UNTUK MERAIH SESUATU
A. Motivasi Ekstrinsik dan Intrinsik
Motivasi Ekstrinsik adalah melakukan sesuatu demi sesuatu yang lain (cara untuk mencapai tujuan), Motivasi ini sering dipengaruhi oleh insentif eksternal seperti imbalan dan hukuman. Misalnya, murid mungkin belajar keras menghadapi ujian untuk mendapatkan nilai yang baik. (tujuan itu sendiri) Misalnya, murid mungkin belajar menghadapi ujian karena dia senang pada mata pelajaran yang diujiankan itu. Jadi, Perspektif Behavioral menekankan arti penting dari motivasi ekstrinsik dalam prestasi ini, sedangkan pendekatan Kognitif dan Humanistis lebih menekankan pada arti penting dari motivasi intrinsic dalam prestasi ini.
Menurut Wigfield&EcclesBukti terbaru mendukung pembentukan iklim kelas dimana murid bias termotivasi secara intrinsic untuk belajar saat mereka diberi pilihan, senang menghadapi tantangan yang sesuai dengan kemampuan mereka, dan mendapat imbalan yang mengandung nilai informasional tetapi bukan dipakai untuk control. Pujian juga bias memperkuat motivasi intrinsic murid. Kenapa ini bisa terjadi? Nah, disini kita akan membahas 2 jenis motivasi intrinsic:
1.      Motivasi intrinsic dari determinasi diri dan pilihan personal
Dalam pandangan ini murid ingin percaya bahwa mereka melakukan sesuatu karena kemauan sendiri, bukan karena kesuksesan atau imbalan eksternal. Motivasi internal dan minat intrinsic dalam tugas sekolah naik apabila murid punya pilihan dan peluang untuk mengambil tanggung jawab personal atas pembelajaran mereka, missalnya; murid sains di SMA yang diajak untuk mengorganisir sendiri eksperimennya, mereka akan lebih perhatian dan berminat terhadap peraktek laboraturium ketimbang murid yang diharuskan mengikuti instruksi dan aturan guru yang ketat.
2.      Motivasi intrinsic dari pengalaman optimal
Pengalaman optimal itu terjadi ketika orang merasa mampu menguasai dan berkonsentrasi penuh saat melakukan suatu aktifitas dan juga pengalaman optimal ini terjadi ketika individu terlibat dalam tantangan yang mereka anggap tidak terlalu sulit tetapi juga tak terlalu mudah.
Anggapan tentang level tantangan dan keahlian dapat menghasilkan hasil yang berbeda-beda, flow atau pengalaman optimal paling mungkin terjadi di area dimana murid ditantang dan menganggap diri mereka punya keahlian yang tinggi, ketika keahlian murid tinggi tetapi aktivitas yang dihadapinya tidak menantang hasilnya adalah kejemuan. Ketika level tantangan dan keahlian adalah rendah, murid merasa apati. Dan ketika murid menghadapi tugas sulit yang dirasakan tidak bisa mereka tangani, maka mereka merasa cemas.
Imbalan Ekstrinsik dapat menaikkan dan menurunkan motivasi intrinsic si murid,  ketika si pendidik memberikan sebuah hadiah yang mengandung informasi tentang kemampuan murid maka motivasi intrinsic dapat meningkat dengan cara meningkatkan perasaan bahwa diri mereka kompeten. Namun, umpan balik negative, seperti kritik, yang mengandung informasi bahwa murid tidak pandai, maka dapat melemahkan motivasi intrinsic terutama apabila si murid meragukan kemampuan mereka untuk menjadi kompeten.
3.      Pergeseran Devlopmental dalam Motivasi Ekstrinsik dan Intrinsik
Saat murid pindah dari SD ke sekolah menengah motivasi intrinsic mereka menurun, penurunan motivasi intrinsic terbesar dan peningkatan motivasi ekstrinsik terbesar terjadi diantara grade enam dan tujuh.Saat murid naik dari grade enam sampai delapan, makin banyak murid yang mengatakan bahwa sekolah itu membosankan dan tidak relevan.Mengapa pergeseran kearah motivasi ekstrinsik ini terjadi saat murid naik ke kelas yang lebih tinggi?Salah satu penjelasannya adalah karena praktik kenaikan kelas memperkuat orientasi motivasi eksternal. Artinya, saat murid bertamabah usia, mereka terkungkung dalam penekanan pada tujuan naik kelas dan karenanya motivasi internalnya turun.

B.     Proses Kognitif Lainnya
Proses Kognitif lainnya yang terlibat dalam memotivasi murid untuk belajar ada empat proses:
1)      Atribusi
Teori atribusi menyatakan bahwa dalam usaha mereka memahami prilaku atau kinerjanya sendiri, orang-orang termotivasi untuk menemukan sebab-sebab yang mendasarinnya.Atribusi adalah sebab-sebab yang dianggap menimbulkan hasil.
Untuk melihat bagaimana atribusi memengaruhi prestasi, bandingkan cerita 2 murid, antara Jane dan Susan yang gagal dalam ujian matematika.
Apa sterategi terbaik yang bisa dipakai guru untuk membantu murid seperti Susan untuk mengubah atribusinya?
Psikolog pendidikan menganjurkan strategi ini digunakan untuk membantu mereka:
a)      Berkonsentrasi pada tugas sehingga tidak takut gagal
b)      Mengatasi kegagalan dengan memperbaiki kembali langkah-langkah mereka untuk menemukan kesalahan atau menganalisis problem untuk menemukan pendekatan lain yang lebih baik.
c)      Mengatribusikan kegagalan mereka pada kurangnya usaha, bukan pada kurangnya kemampuan.
2)      Motivasi untuk menguasai keahlian
Penguasaan ini sebagai salah satu dari tiga tipe orientasi: Penguasaan, tak berdaya, dan kinerja. Murid yang berorientasi untuk menguasai dan tak berdaya tidak berbeda dalam kemampuan umumnya.Akan tetapi, mereka punya teori yang berbeda tentang kemampuan mereka. Murid yang berorientasi untuk menguasai percaya bahwa kemampuan mereka bisa di ubah dan ditingkatkan. Mereka setuju dengan pernyataan ”Kecerdasan bisa ditingkatkan selama kalian menginginkannya”. Sebaliknya, anak yang berorientasi tak berdaya percaya bahwa kemampuan pada dasarnya tetap dan tidak bisa diubah. Mereka setuju dengan pernyataan”Anda bisa mempelajari hal baru, namun kecerdasan anda akan tetap sama”.
Sedangkan, murid yang berorientasi kinerja lebih memperhatikan hasil ketimbang proses. Bagi murid yang berorientasi kinerja, kemenangan itu penting dan kebahagiaan dianggap sebagai hasil kemenangan.Jika mereka berusaha lalu gagal, mereka sering menganggap kegagalan itu sebagai bukti dari kemampuan yang rendah. Dilema ini membuat murid melakukan sesuatu yang melindungi diri mereka dari kesan tidak pandai tetapi uaya ini akan mengganggu pembelajaran mereka dalam jangka panjang. Biasanya untuk menghindari kesan tidak mampu, beberapa murid tidak mau mencoba atau menipu(misalnya mencontek), yang lainnya mungkin menggunakan sterategi lain seperti menghindari, mencari-cari alasan, bekerja setengah hati, atau menentukan tujuan yang tidak realistis.
Dibanding dengan murid yang berorientasi untuk menguasai yang penting bagi mereka sudah berinteraksi secara efektif dengan lingkungannya,mereka tetap berharap berhasil tapi bagi mereka kemenangan itu tidak sepenting seperti yang dibayangkan oleh murid yang berorientasi kinerja. Bagi mereka pengembangan keahlian jauh lebih penting.
3)      Self efficacy
Self-efficacy adalah keyakinan bahwa”Aku bisa”. Murid dengan self-efficacy rendah mungkin menghindari banyak tugas belajar, khususnya yang menantang dan sulit, sedangkan murid dengan level self-efficacy yang tinggi mau mengerjakan tugas-tugas seperti itu, ia lebih mungkin untuk tekun berusaha menguasai tugas pembelajaran ketimbang murid yang berlevel rendah.
Self efficacy Anda sebagai guru akan berpengaruh besar terhadap kualitas pembelajaran murid Anda. Guru dengan Self efficacy rendah sering kali kebingungan menghadapi problem kelas, ia juga tidak punya rasa percaya diri dalam kemampuan mereka untuk menguasai kelas, menjadi strees dan marah pada prilaku murid yang tidak tepat, pesimis terhadap kemampuan murid untuk berkembang, memandang pekerjaan mereka sebagai rutinitas belaka, sering menggunakan model hukuman dan larangan, DLL
4)      Penentuan tujuan, perencanaan dan monitoring diri
Self efficacy dan prestasi dapat meningkat jika murid menentukan tujuan jangka pendek yang spesifik dan menantang.Tujuan nonspesifik adalah seperti “Aku ingin sukses”.Tujuan yang lebih kongkrit dan spesifik adalah seperti”Aku ingin mendapat rangking ssatu semester ini”. Murid dapat menentukan tujuan jangka panjang(distal) maupun jangka pendek(proximal).
Strategi lainnya yang baik adalah mendorong murid untuk menentukan tujuan yang menantang.Tujuan yang menantang adalah komitmen untuk meningkatkan diri, minat dan keterlibatan dalam aktivitas biasanya dipicu oleh suatu tantangan.Tujuan yang mudah diraih biasanya tidak begitu menarik dan tidak banyak membutuhkan banyak usaha. Akan tetapi, seharusnya disesuaikan dengan level kemampuan murid yang optimal. Jika tujuan tidak realistis, hasilnya adalah kegagalan yang menurunkan rasa percaya diri murid.

C.     Kecemasan dan Prestasi
Kecemasan (anxiety) adalah perasaan takut dan kegundahan yang tidak jelas dan tidak menyenangkan. Adalah normal jika murid kadang merasa cemas atau khawatir saat menghadapi kesulitan disekilah, seperti saat akan mengerjakan ujian.
Beberapa anak mengidap kecemasan tingkat tinggi lantaran orang tua nya membebankan standar prestasi yang tidak realistis pada diri anak mereka.Banyak anak bertambah cemas saat mereka naik kelas, karena mereka menghadapi lebih banyak ulangan, perbandingan social, dan beberapa kegagalan.
Program intervensi terhadap kecemasan yang difokuskan pada aspek kekhawatiran, dimana program ini berusaha mengganti pemikiran destruktif dan negative tentang kecemasan dengan pemikiran yang lebih positif dan konstruktif.

D.    Ekspektasi Guru
Motivasi dan kinerja murid dipengaruhi oleh ekspektasi guru. Guru seringkali punya ekspektasi lebih positif untuk murid berkemampuan tinggi ketimbang murid berkemampuan rendah. Ekspektasi ini kemungkinan akan mempengaruhi sikap dan prilaku murid terhadap guru.
Salah satu strategi pengajaran yang penting adalah memantau ekspektasi guru dan pastikan guru punya ekspektasi positif terhadap semua murid termasuk yang berkemampuan rendah.

Motivasi, Hubungan Dan Konteks Sosiokultural
Motivasi mengandung komponen social, selain motif untuk berprestasi, murid juga punya motif social. Bahasan kita tentang dimensi social dari motivasi ini akan difokuskan pada:
1.      Motif social
Motif social adalah kebutuhan dan keinginan yang dikenal melalui pengalaman dengan dunia social. Latar belakang social anak akan mempengaruhi kehidupan mereka disekolah, murid yang menunjukkan prilaku yang kompeten secara social lebih mungkin unggul secara akademis ketimbang murid yang tidak kompeten.
Kebutuhan social murid direfleksikan dalam keinginan mereka untuk popular dimata kawan sebaya dan kebutuhan punya satu kawan akrab atau lebih, dan keinginan untuk menarik dimata orang yang mereka sukai.Setiap murid mempunyai kebutuhan afiliasi yang berbeda-beda.
Di SMP dan SMA beberapa murid merasa ada yang hilang dalam kehidupan mereka jika mereka tidak punya pacar untuk diajak kencan di malam minggu, ada juga yang tidak punya kebutuhan afiliasi sekuat itu, mereka tidak peduli apakah mereka punya banyak kawan atau tidak,dan tidak cemas jika mereka tidak punya pacar.
Pada masa SD murid lebih termotivasi untuk menyenangkan orang tuanya ketimbang menyenagkan temannya, menjelang akhir masa SD penerimaan orangtua dan teman berada pada posisi yang sama dalam system motif anak. Pada grade delapan atau Sembilan(sekolah menengah), penerimaan teman lebih penting ketimbang penerimaan orang tua. Pada grade 12, penerimaan teman kurang penting karena murid sudah mulai membuat keputusan sendiri.

2.      Hubungan Sosial
Hubungan murid dengan orangtua,teman sebaya, guru dan mentor dan orang lain dapat mempengaruhi prestasi dan motivasi social mereka.
a.      Hubungan orangtua dan motivasi murid:
v  Karakteristik demografis
Orangtua yang berpendidikan tinggi percaya bahwa keterlibatan mereka dalam pendidikan anak adalah penting.Mereka lebih berpartisipasi dalam pendidikan anaknya dan member stimuli intelektual dirumahnya. Ketika orangtua lebih banyak menghabiskan waktu bersama orang lain ketimbang untuk anaknya motivasi anak akan menurun tajam. Prestasi murid dapat menurun apabila tinggal bersama orang tua yang waktunya dihabiskan untuk bekerja dan tinggal dalam keluarga besar.
v   Praktik pengasuhan anak:
¨      Mengenal betul si anak dan memberi tantangan dan dukungan dalam kadar yang tepat.
¨      Memberikan iklim emosional yang positif, yang memotivasi anak untuk menginternalisasikan nilai dan tujuan orang tua.
¨      Menjadi model prilaku yang member motivasi: bekerja keras dan gigih menghadapi tantangan.
v  Privasi pengalaman spesifik di rumah
Selain praktek pengasuhan umum, orangtua dapat memberikan pengalaman spesifik di rumah untuk membantu si anak menjadi lebih termotivasi. Membacakan buku untuk anak prasekolah dan member materi bacaan di rumah akan memberi efek positif  pada prestasi dan motivasi membaca anak.

b.           Hubungan Teman Sebaya
Teman sebaya dapat mempengaruhi motivasi anak melalui perbandingan social, kompetensi dan motivasi social, belajar bersama, dan pengaruh kelompok teman sebaya. Murid dapat membandingkan dirinya sendiri dengan teman sebaya mereka secara akademik dan social. Teman sebaya dapat membantu satu sama lain dalam mempelajari materi pelajaran melalui diskusi kelompok kecil. Dan tutoring teman sebaya seringkali meningkatkan prestasi bagi tutor maupun murid yang diberikan tutorial.

c.            Hubungan dengan Guru
Seperti yang telah kita jelaskan pada self efficacy guru sangat mempengaruhi motivasi murid.

3.      Konteks Sosiokultural
Dalam bagian ini telah banyak dibahas oleh teman kita kelompok 7, dimanalatar belakang status sosioekonomi, etnis dan gender bisa mempengaruhi motivasi dan prestasi si murid.


MURID BERPRESTASI RENDAH DAN SULIT DI DEKATI

Salah satu aspek yang sulit dalam mengajar adalah bagaimana membantu murid yang berprestasi rendah dan susah didekati. Jere Brophy mendeskripsikan strategi untuk  meningkatkan motivasi 2 jenis murid yang susah didekati dan berprestasi rendah:
a)      Murid yang tidak semangat dan kurang percaya diri dan kurang bermotivasi untuk belajar.
Murid jenis ini mencakup:
Ø  Murid berprestasi rendah dengan ekspektasi prestasi yang rendah
1.      Murid dengan sindrom kegagalan
2.      Murid yang termotivasi untuk melindungi harga diri dengan menghindari kegagalan
     
b)      Murid yang tidak tertarik atau terasing
Berprestasi disekolah bagi mereka adalah hal yang tidak penting. Untuk mendekati murid yang apatis ini dibutuhkan usaha terus menerus untuk mensosialisasikan kembali sikap mereka terhadap prestasi sekolah.


























BAB III
KESIMPULAN

           Motivasi adalah proses memberi semangat, arah, dan kegigihan prilaku. Artinya, prilaku yang termotivasi adalah prilaku yang penuh energi terarah dan bertahan lama. Perspektif behavorial tentang motivasi menekankan bahwa imbalan dan hukuman eksternal adalah faktor utama yang menentukan motivasi murid. Perspektif humanistis menekankan kapasitas pertumbuhan personal kita, kebebasan kita untuk memilih nasib, dan kualitas positif kita. Dalam perspektif kognitif adalah pemikiran murid akan memandu motivasi mereka yaitu keyakinan murid mereka dapat mengontrol lingkungan mereka secara efectif. Perspektif sosial ia lebih menekankan perlunya afiliasi.
           Motivasi dalam meraih sesuatu: motivasi ekstrinsik adalah melakukan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu yang lain (cara untuk ke tujuan). Motivasi intrinsik adalah motivasi internal untuk melakukan sesuatu demi sesuatu itu sendiri (tujuan itu sendiri). Teori atribusi menyatakan bahwa individu termotivasi untuk menemukan sebab-sebab dari prilakudalam rangka memahami prilaku.
           Self-efficacy (kecakapan diri) adalah keyakinan bahwa seseorang dapat menguasai situasi dan memproduksi hasil positif.
           Kecemasan adalah perasaan takut yang samar dan tidak menyenangkan. Ekspektasi guru dapat sangat mempengaruhi motivasi dan prestasi murid.
           Hubungan dan konteks sosiokultural dapat menguatkan atau melemahkan motivasi. Sedangkan motif sosial adalah kebutuhan dan keinginan yang dipelajari melalui pengalaman dengan sosial.
           Membantu murid berprestasi rendah dan sulit dijangkau dapat dilakukan dengan cara membangun hubungan yang positif dengan murid tersebut, membuat sekolah menjadi lebih menarik bagi mereka, strategi mengajar yang lebih menyenangkan, dan mempertimbangkan penggunaan mentor dari komunitas atau murid yang lebih tua sebagai orang pendukung bagi murid.    






Tidak ada komentar:

Posting Komentar