Senin, 06 Oktober 2014

Psikologi Agama



Sumber buku : Drs.Suprayetno W,M.A


1.      Aspek-Aspek Psikologis Doa

Di dalam berdoa manusia bukan saja meminta kepada Allah , tetapi juga mengadukan segala persoalan dan perasaanya kepada Allah. Doa dinyatakan oleh Rasulullah sebagai otak dari ibadah.
Rasulullah SAW. bersabda: “Doa merupakan otak ibadah”
(HR.Tirmidzi dari Anas bin Malik)
Al-Tirmidzi, jilid 12,nomor 3698,hlm.262 menunjukkan betapa pentingnya berdoa,sebab doa memiliki kedalaman untuk meresapkan keberadaan Allah yang selanjutnya akan meningkatkan keimanan orang yang berdoa.
Seringkali dalam berdoa seseorang mengalami kesulitan untuk menyatakan perasaanya, karena lidah atau pikiran tidak mampu menterjemahkakan bahasa-bahasa hati. Secara psikologis doa merupakan gabungan dari pernyataan-pernyataann manusia yang diiringi dengan kondisi mental tertentu yang di tujukan kepada Allah.
Doa mengandung keutamaan secara psikologis.
Pertama, doa dapat meningkatkan kekuatan spiritual dan keimanan seseorang. Contohnya, seseorang yang khawatir akan kegagalan usahanya berdoa kepada Allah untuk kesuksesan usahanya. Setelah berdoa ia memiliki semangat tinggi untuk berusaha. Namun andaikan ia gagal, ia tidak akan putus asa sebab ia yakin apa yang telah diberikan Allah adalah yang terbaik untuknya. Orang yang selalu berdoa tidak akan mudah putus asa dan frustasi. Sebab perasaan-perasaan negaif yang mendorongnya untuk frustasi dan putus asa telah ia lebur bersama dengan doa-doa yang dipanjatkannya kepada Allah.
Kedua, doa meningkatkan persiapan spiritual seseorang dalam mempersiapkan dirinya menghadapi Hari Akhir. Seorang Muslim memohon keampunan Allah khawatir kelak ia mendapat tempat yang buruk (neraka) di Hari Akhir. Dengan berdoa memohon keampunan Allah, ia tidak akan putus asa tentang tempatnya di Hari Akhir nanti, dan ia memiliki kekuatan spiritual untuk menyiapkan bekal yang sebaik-baiknya guna menghadapi Hari Akhir tersebut.

Ketiga, doa dapat meningkatkan rasa sosial manusia. Sebab pada umumnya seseorang yang berdoa merasakan dan mengadukan penderitaan-penderitaan yang dialaminya kepada Allah. Dengan demikian, hatinya akan terlatih untuk melihat dan ikut merasakan penderitaan-penderitaan orang lain, yang kelak akan melahirkan sikap social yang tinggi.
Keempat, doa juga dapat menurunkan tekanan-tekanan jiwa yang dialami. Sebab dalam berdoa persoalan-persoalan yang dialami semuanya diadukan kepada Allah sehingga persoalan-persoalan itu akan lebur bersama doa dan tidak lagi berada di ambang sadar, melainkan ia telah mencuat kea lam sadar. Secara otomatis setiap orang yang berdoa telah melakukan self-therapyatas dirinya sendiri, sebagaimana Sigmund Freud menggunakan bentuk terapi asosiasi verbal pada pasiennya.

1.      Aspek-Aspek Kependidikan Doa

Dalam berdoa manusia dilatih untuk memanage persoalan-persoalannya dan keseluruhan-keseluruhan jiwanya. Doa juga mengajarkan manusia untuk tidak mudah putus asa dan frustasi. Sebab saat ia mendapati tidak ada lagi manusia tempatnya bergantung, ia masih memiliki Allah sebagai tempat menggantungkan harapan-harapannya dan ia akan tetap memiliki semangat berjuang, bekerja dan berusaha.
Demikian pula doa mengajarkan kepada manusia untuk tidak takut menghadapi kesulitan. Sebab dari doa-doa yang dipanjatkannya kepada Allah, ia menyadari bahwa ketika baru saja ia berhasil menyelesaikan suatu kesulitan, ia telah memohon kepada Allah untuk memberinya kekuatan menyelesaikan persoalan yang lain. Doa menyadarkan manusia akan hakekat hidup di dunia, yakni untuk menjalani dan menyelesaikan kesulitan demi kesulitan, dan kebahagiaan itu merupakan kesulitan yang telah terselesaikan.






Sumber buku :  Rafy Sapuri, M.Si

Doa
            Doa, walaupun secara kasad mata susah untuk dipercaya, namun hati nurani manusia tentu sudah banyak yang mengalami secara pribadi . Bahwa, betapa doa telah mengubah hidupnya menjadi lebih optimis dalam menjalani rintangan dan cobaan hidup. Sementara itu, doa tentunya akan lebih mampu membantu seseorang untuk mencapai tujuan.
Tentang doa juga merupakan sebagai sebuah usaha untuk mencapai sesuatu, dikuatkan oleh penelitian Larry Dossey yang menimbulkan, bahwa “Orare est laborate est orare” yang berarti  “Berdoa artinya bekerja,bekerja artinya berdoa”. Segala usaha untuk mencapai sesuatu tidak akan sia-sia, asal dilakukan dengan kesungguhan. Perbedaan adab berdoa, berarti memberikan perbedaan dalam bekerja, dengan kata lain memberikan perbedaan dalam gaya belajar siswa.
            Berkaitan dengan doa, Fadlullah (2005:15-18) mengatakan, bahwa doa memiliki makna ibadah yang dinamis dan mampu mengatasi setiap kondisi yang tidak dibatasi oleh waktu. Nilai penting doa adalah mampu menyentuh ruang kesadaran manusia untuk berhubugan dengan Allah SWT. Doa berarti menciptakan optimisme dalam jiwa, sebagai antithesis terhadap sikap pesisimis dan lari dari tanggung jawab yang diemban.
            Nabi Saw. Telah bersabda :
“Tidak ada sesuatu pun yang paling mulia selain berdoa kepada Allah”.
(HR Tirmidzi dan Ibnu Majah).
            Hadis ini memberikan pengertian, bahwa orang yang berdoa amat mulia di sisi Allah Swt. Kemuliaan adalah lambang kesuksesan –kesuksesan berikutnya. Allah Swt. Telah berjanji  akan menambah nikmat orang-orang yang selalu bersyukur dan dengan tegas akan memberikan adab yang pedih, kepada siapapun yang mengingkari nikmat-nikmat yang telah diberikan oleh Allah Swt. (QS Ibrahim:7)
            Doa sangat penting bagi perkembangan psikologis seseorang.
Ghazali menuliskan sebuah doa, yang erat kaitannya dengan betapa pentingnya doa dan ilmu serta senantiasa memohon kepada Allah, agar dianugrahi ilmu yang bermanfaat dan segala doa yang kita panjatkan didengar, yaitu :
“ Ya Allah aku berlindung dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’ , dari amal yang tidak diterima dan dari doa yang tidak didengar.”
            Ghazali mengatakan,bahwa jiwa (nafs) yang condong untuk menuntut ilmu disebut an-nafs al-ammarah bi as-s u. Jiwa tahap ini masuk ke dalam kategori jiwa tingkat awal, yaitu jiwa yang tidak menggambarkan kembali kepada Allah Swt. , sehingga memiliki jarak yang jauh dengan Allah Swt. Dan termasuk kelompok (hizb) setan.
            Rasulullah Saw. bersabda :
“Barangsiapa yang bertambah ilmunya namun tidak disertai dengan bertambahnya hidayah, maka tidak bertambah pada dirinya suatu apa pun dari Allah selain bertambah jauh dari-Nya.”
            Mazhahiri (2002:199) menjelaskan, bahwa doa adalah kenikmatan yang paling nikmat. Doa menjadikan manusia memutus keterikatan dan ketergantungan kepada selain Allah. Doa meniupkan ketenangan dan ketentraman jiwa, juga membuat hari-harinya diliputi oleh kebahagiaan dan ketenangan. Doa mampu melapangkan dada, sehingga mudah menerima segala informasi dari luar dirinya tanpa penghalang. Doa mampu menutupi berbagai kekurangan dari diri manusia, sehingga akan terangkat martabatnya. Doa mampu membantu dan mengarahkan manusia dalam menemukan sesuatu yang hilang dalam dirinya.
            Doa adalah ibadah. Ibadah akan membawa seseorang kuat, baik secara fisik maupun mental.
            Doa berperan lebih jauh dari sekedar ibadah ritual, bahkan hampir mencakup semua kegiatan ibadah. Dimana pun seseorang melakukan ibadah pasti ada doa dibalik semua itu. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Luhai’ah, Nabi Saw. bersabda :
“Doa adalah otaknya ibadah” (HR al-Tirmidzi)
            Orang yang berdoa, berarti telah berusaha menghadapkan segala urusan kepada Allah Swt. Doa merupakan pernyataan tentang kelemahan manusia dihadapan kekuasaan Allah Swt. , serta merupakan cara untuk mengingat-Nya. Semakin konsisten seseorang melakukan doa dengan adab yang benar, akan semakin mendukung kemampuan mereka dalam melakukan aktivitas positif.
1.      Pengertian Adab Berdoa

Kata “adab” dalam bahasa Indonesia diterjemahkan Peter Salim dan Yenny Salim (1991:8) sebagai suatu “tingkah laku, akhlak atau budi pekerti yang baik.”
Kata “adab” dalam bahasa Inggris diterjemahkan Hava S.J (1964:5) dengan “good breeding, politeness, literature and culture of mind” , yang artinya “Pendidikan yang baik, kesopanan, keteraturan dan kesopanan berfikir.”
Rasulullah Saw. bersabda :
“Bukanlah seorang yatim itu yang telah meninggal bapaknya, tapi seorang yatim itu adalah yatim ilmu dan adab. “ (HR Muslim)
Dengan demikian, adab berarti berkumpulnya tingkah laku atau perangai dan cara berpikir yang baik dan indah pada diri seorang hamba.

Ibadi (1980:9) membagi adab kedalam tiga bagian,yaitu adab kepada Allah, adab kepada Al-Qur’an, dan adab kepada Rasul.
1.      Adab kepada Allah adalah dengan menaati segala perintah dan menjauhi segala yang dilarang dan membersihkan segala sesuatu yang tidak cocok(yaliq) dengan keagungan-Nya.
2.      Adab kepada Al-Qur’an adalah dengan meyakini isi dan mengamalkannya tanpa memilah-milah atau membagi-baginya.
3.      Adab kepada Rasul adalah mencintai Rasul dengan cinta yang tak terbandingkan daripada engkau mencintai seorang pun dari makhluk.
Jawziyyah (1997:402-405) juga membagi adab kedalam tiga bagian, yaitu: adab kepada Allah, adab kepada Rasul, dan adab kepada makhluk.
1.      Adab kepada Allah, diantaranya adalah harus tenang ketika sedang solat dan memerhatikan bacaan, mengagungkan Allah ketika ruku , dan sebagainya. Adab kepada Allah yang berarti “memegang teguh agama Allah dan mendidik diri lahir dan batin ( dengan mengikuti ajaran agama).’’ Seseorang belum dianggap beradab kepada Allah jika belum melakukan minimal 3 perkara,yaitu:
1.      Mengetahui nama-nama dan sifat-sifat-Nya,
2.      Mengetahui agama dan syariatnya
3.      Jiwa yang selalu siap menerima kebenaran dengan akal (‘ilman), tingkah laku (‘amalan) dan kondisi (halan).
2.      Adab kepada Rasul, berarti mengamalkan Al-Qur’an dan yang paling pokok adalah member salam juga mematuhi perintahnya.
3.      Adab kepada Makhluk , yaitu ada dalam pergaulan (mu amalah).
Kata “doa” dalam kamus bahasa Indonesia versi Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (1997:714) diterjemahkan dengan “permohonan atau permintaan”.
Dalam Ensiklopedi Islam (1994:316) Doa secara lisan dan hati merupakan ucapan lisan dan getaran hati berupa permohonan serta pujian kepada Allah Swt. ,dengan cara-cara tertentu.
Dalam Mu ‘jam fi Alfazh al-Qur’an dijelaskan bahwa doa adalah seruan,permintaan,permohonan,pertolongan dan ibadah kepada Allah Swt. supaya terhindar dari marabahaya dan mendapatkan manfaat.
Doa secara istilah menurut Asqari (1997:626) adalah permohonan kepada Allah Swt. , agar Dia mendatangkan sesuatu yang bermanfaat dan menjauhkannya dari segala bentuk kemudaratan.
Menurut Sya’rawi (2007:27) , doa adalah penghubung yang langsung antara Allah Swt. dengan hamba-hamba-Nya.
Menurut Mazhahiri (2001:1), doa adalah merendahkan diri dan inabah (kembali) kepada Allah.
Menurut Fadhlullah (2005:19), doa adalah gerakan yang menggugat kelemahan manusia agar meraih spiritualitas yang tinggi dan penuh pengakuan dosa kepada Allah.
Menurut Hazrat Syah Maqshud Angha dalam O’Riondan (2002:92), doa yang sesungguhnya adalah bersaksi atas kemuliaan cahaya Tuhan, dan mengabdi penuh kepada Tuhan Yang Maha Agung dalam cermin hati yang murni dan yakin.
Dengan demikian, doa adalah sarana untuk berhubungan langsung dengan Allah Swt. , dengan menyampaikan segala permohonan atau permintaan melalui gerakan berupa ucapan lidah atau getaran hati, diawali dengan pengakuan dosa dan kelemahan diri dengan tujuan agar terhindar dari bahaya baik secara lahir atau batin agar mencapai tujuan.
Maka adab berdoa adalah kumpulan tingkah laku atau perangai, cara berpikir dan bersitan hati yang baik dan indah dalam menyampaikan permohonan agar mencapai sesuatu yang mulia di sisi Allah Swt.
Menurut Ghazali (2001:151), berdoa adalah respons terhadap Allah Swt. , keutamaan seseorang di hadapan Tuhannya adalah karena kejuhudannya dan kehujudan itu ditandai oleh doa yang selalu dilantunkannya sebagai manifestasi dan ungkapan kelemahan dan ketidakberdayaannya di hadapan Allah Swt.
Menurut izutsu (1997:214), hanya dalam situasi terbatas hati manusia dapat sepenuhnya murni dari semua pikiran keduniaan. Jadi saat berdoa atau ketika melakukan permohonan kepada Allah Swt, diperlukan saat yang baik dan tepat, karena pikiran manusia sangat didominasi oleh hal-hal keduniawian.
Malik bin Dinar dalam Ghazali (2001:151) berkata, bahwa doa yang dikabulkan adalah doa yang dilakukan dengan keikhlasan.
Rasulullah Saw. bersabda :
“Tidak  ada seorang Muslim dimuka bumi ini yang berdoa memohonkan sesuatu kepada Allah, melainkan Allah mengabulkannya sebagaimana yang dimohonkannya, atau dipalingkan Allah darinya suatu kecelakaan selama ia tidak mendoakan sesuatu yang mengandung dosa atau memutuskan silaturrahim. Maka berkata seseorang kepada Rasulullah, “kalau begitu baiklah kami memperbanyak doa.” Rasulullah menjawab,”Allah menerima doa hamba-Nya lebih banyak lagi.”(HR al-Tirmidzi)
Hadis tersebut menjelaskan bahwa setiap doa pada hakikatnya akan diijabah oleh Allah.
Dalam hadis lain rasulullah Saw. menegaskan, bahwa ada di antara manusia yang tidak ditolat doanya,yaitu :
Dari abi Hurairah r.a. Nabi Saw. bersabda :
“Ada tiga golongan orang yang doanya dikabulkan(mustajab) tidak ada keraguan di dalamnya. Yaitu doa orangtua, para musafir dan doa orang yang teraniaya”(HR Ahmad, Abu Daud dan al-Tirmidzi)
Menurut Mazhahiri (2002:10), setidaknya selain dikabulkan doa juga memiliki enam
manfaat dan keuntungan, yaitu :
1.      Doa merupakan kenikmatan yang paling tinggi, bahkan bagi sebagian pihak merupakan kenikmatan yang tiada taranya.
2.      Berdoa berarti sama sekali tidak berharap kepada selain Tuhan Yang Maha Tinggi serta hanya bergantung dan memohon kepada-Nya.
3.      Menepis musibah,kesulitan,kesedihan,kesusahan,rasa takut dan tekanan batin.
4.      Sebagai pengganti berbagai kekurangan dan ketidakmampuan manusia.
5.      Melapangkan dada, membesarkan jiwa serta menjadikan manusia mampu bersikap tegar dan tabah dalam menghadapi kesulitan, musibah dan bencana.
6.      Menjadikan manusia menemukan sesuatu yang hilang dari dirinya, yakni Allah Yang Maha Tinggi.
Allah menggambarkan perilaku manusia yang seperti ini dalam Al-Qur’an :
Dan apabila manusia itu ditimpa ke-mudharat-an, dia memohon (pertolongan) kepada Tuhan-nya dengan kembali kepada-Nya; kemudian apabila Tuhan memberikan nikmatnya lupalah dia akan ke-mudharat-an yang pernah dia berdoa (kepada Allah) untuk (menghilangkannya) sebelum itu, dan dia mengada-adakan sekutu-sekutu bagi Allah untuk menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah: “Bersenang-senanglah dengan kekafiranmu itu sementara waktu; sesungguhnya kamu termasuk penghuni neraka” (QS Al-Zumar:8)
Allah Swt. pada prinsipnya selalu mengabulkan doa siapapun yang berdoa,selama doa  itu baik untuk kemaslahatan orang yang berdoa tersebut. Namun, tidak semua yang dimohonkan akan langsung diterima oleh yang berdoa dan dirasakan efeknya dengan bermacam-macam alasan. Alasan Allah Swt. mengabulkan doa seorang hamba disesuaikan dengan janji-janji Allah Swt. dan Rasul-Nya yang tertulis didalam Al-Qur’an dan Hadis.
Pertama, berkenaan dengan adab kepada Allah, seperti Allah akan menerima doa yang didahului dengan memuji nama-nama-Nya, tidak kafir dan sebagainya.
Kedua, berkenaan dengan adab kepada Rasulullah, seperti doa akan diterima setelah orang tersebut bershalawat kepadanya dan siapapun dari makhluk Allah Swt. yang dizalimi akan dikabulkan doanya oleh Allah.

Rasulullah Saw. bersabda :
“Setiap doa terhalang (tidak diterima) sehingga diucapkan shalawat kepada Nabi Saw.” (HR al-Tirmidzi)
Ketiga, berkenaan dengan makhluk.
Semakin seseorang tidak memiliki kendala pada sesama makhluk dan Rasulullah ridha kepadanya, maka diasumsikan ketika ia berdoa akan langsung diijabah oleh Allah Swt.
1.      Dalil – dalil Tentang Doa
Rasulullah Saw. bersabda:
Dari Nu’man bin Basyir, bahwasanya Rasulullah Saw.bersabda: “Sesungguhnya doa adalah ibadah,” kemudian membaca, “Berdoalah aku akan mengabulkannya, sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembahku akan masuk kedalam neraka Jahannam dalam keadaan hina.” (HR Ahmad)
Allah menjamin bahwa apa yang diminta akan dikabulkannya, bahkan mengancam mereka yang menyombongkan diri dalam beribadah dengan tidak mau berdoa dan memohon kepada-Nya.
Mazhahiri (2002:12) mengatakan, bahwa sebaik-baik kondisi manusia adalah tatkala dirinya berada dalam kondisi gemar berdoa.
Rasulullah Saw. bersabda :
Dari Abi Hurairah r.a. Nabi Saw. bersabda: “Allah azza wa jalla, berfirman: Hamba-Ku ada pada prasangkanya terhadap-Ku dan Aku bersamanya apabila ia berdoa kepada-Ku.” (HR Ibnu Majah)
Hadis tersebut menjelaskan bahwa sebenarnya Allah Swt. amat dekat dengan hamba-hamba-Nya.
Dari Ibnu Mas’ud Nabi bersabda :
Mintalah karunia Allah Swt., sebab Ia sangat suka bila diminta sesuatu. Dan ibadah paling utama adalah menunggu datangnya keselamatan dari bencana.” (HR al-Tirmidzi)
Ayat Al-Qur’an yang berhubungan dengan perintah dan tata cara(manhaj) berdoa adalah :
“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas” (QS Al-A’raf:55)

Allah Swt. berfirman :
Dan janganlah kamu membuat kerusakan dimuka bumi sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS Al-A’raf:56)
Allah Swt. juga berfirman :
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-KU, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (QS Al-Baqarah:186)
Allah Swt. berfirman :
Penjaga Jahannam berkata : “ Dan apakah belum datang kepada kamu rasul-rasulmu dengan membawa keterangan-keterangan?” Mereka menjawab: “Benar, sudah dating. “Penjaga-penjaga Jahannam berkata: “Berdoalah kamu.” Dan doa orang-orang kafir itu hanyalah sia-sia belaka. (QS Al-Mu’min:50)
Segala doa akan diterima oleh Allah Swt.,kecuali doa orang kafir.
Ketahuilah, Allah Swt. lebih mengetahui apa yang terbaik untuk ciptaan-Nya.
Allah Swt. berfirman :
Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina. (QS Al-Mu’min:60)
Orang yang sombong adalah orang yang tidak mau mengenal diri,lingkungan dan Allah Swt.
Doa merupakan sebuah cara untuk menunjukkan akan ketidakmampuan dan membuang jauh rasa sombong yang ada pada diri.
Dari ayat-ayat diatas dapat diambil kesimpulan, sebagai berikut: dalam berdua, hendaklah seseorang melakukan dengan penuh kerendahan hari (tadharru), yaitu tidak dengan kesombongan,ujub atau riya. Rendah hati berarti juga rela(ridha) terhadap keputusan Allah Swt.
Kemudian dalam berdoa juga harus dengan suara yang lembut (khufyah), yaitu suara yang tidak bernada tinggi hingga terdengar seakan-akan memaksa, tidak dengan tergesa-gesa, tapi harus dihayati maknanya dengan penuh perhatian.

Allah Swt. menyukai orang yang berdoa dengan penuh rasa takut (khauf). Sekiranya, doa manusia tidak terkabulkan karena lalai kepada perintah-Nya, kemudian disusul dengan harapan yang sungguh-sungguh bahwa doa yang dipanjatkan tersebut benar-benar diharapkan agar dikabulkan.
Doa yang baik adalah doa untuk kebutuhan dunia dan akhirat. Doa seorang mu’min akan dikabulkan jika itu baik untuknya. Berbeda dengan orang kafir, yaitu mereka yang mengingkari Allah Swt. dan Muhammad Saw. Mereka akan dikabulkan doanya, tapi hanya sekedar untuk kebutuhan dunia belaka.
Orang yang berdoa mencirikan bahwa dirinya adalah lemah, tidak memiliki kuasa apa pun, selain karna pertolongan Allah Swt. semata.
Kemudian, perlu diyakini didalam berdoa bahwa tidak ada seorang pun yang pernah kecewa dengan doa yang dipanjatkan kepada Allah Swt.
Allah mengisahkan tentang Nabi Zakaria dalam Firman-Nya :
Ia berkata,”Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum peranh kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku.” (QS Maryam:4)
Allah juga berfirman tentang Nabi Ibrahim a.s :
Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku. (QS Maryam:48)
Dengan merujuk pada ayat-ayat tentang doa di atas, penulis mengambil beberapa kesimpulan, berdasarkan pada metode tafsir tematik, yaitu : Allah Swt. senang kepada hamba-Nya yang berdoa. Orang yang tidak pernah berdoa adalah orang yang hina. Doa adalah mediator seorang hamba kepada Tuhan,berendah diri, dengan suara yang lembut, menggunakan nama-nama-Nya yang indah, bershalawat kepada Nabi Muhammad Saw., tidak melampaui batas, dengan rasa takut (tidak akan diterima). Dengan harapan (akan dikabulkan). Membaca doa dengan tidak tergesa-gesa, berbuat amal kebajikan agar dekat dengan rahmat Allah Swt., merasakan kehadiran Allah Swt.
Syarat terkabulnya doa adalah beriman kepada Allah Swt. Tidak kafir, sebab doa orang yang kafir itu sia-sia belaka. Tidak sombong, sebab orang sombong akan ditempatkan kedalam neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.


2.      Adab Berdoa
Ghazali (1996:119) mengatakan, adab berdoa adalah hendaknya mempunyai hati yang khusyu’ (khusyu’ al-qalb), berkonsentrasi , menampakkan kehinaan, memandang secara baik, merendahkan diri, meminta layaknya orang papa, meminta tolong layaknya orang tenggelam. Mengenal kemampuan dirinya dan keagungan zat yang diminta, mengangkat tangan saat cemas, yakin bahwa Allah akan mengabulkan, cemas kalau-kalau gagal, menunggu datangnya pertolongan, menghilangkan sikap permusuhan, mempunyai niat yang benar dan mengusap wajah dengan bagian dalam telapak tangan selesai berdoa.
Kombinasi dari adab berdoa Ghazali, Ibadi dan Jawziyyah, yaitu :
1.      Berdoa dengan nama Allah yang indah
2.      Selalu mengonsumsi makanan yang halal
3.      Menghadapi kiblat jika memungkinkan
4.      Hari jumat
5.      Mengangkat kedua tangan sampai sebahu
6.      Memulai dengan memuji, mengagungkan dan memuliakan-Nya
7.      Menghindari doa yang berisi keburukan
8.      Tadharru’ (merendahkan diri), khusu’ , raghbah (berharap untuk dikabulkan) dan rahbah (rasa takut tidak dikabulkan)
9.      Merendahkan suara
10.  Berdoa dengan keyakinan pasti dikabulkan
11.  Berdoa tanpa dosa dan tidak memutus silaturrahim
12.  Mengangkat kedua tangan sewaktu berdoa
13.  Berdoa dengan penuh konsentrasi
14.  Mengusap wajah dengan bagian dalam telapak tangan selesai berdoa
15.  Dengan penuh kesungguhan
Menurut Ja’far as-Shadiq dalam Mazhahiri (2002:118), doa akan dikabulkan jika sesuai dengan urut-urutan doa, yaitu :
1.      Memulai doa dengan memuji Allah Swt. ,
2.      Menyebutkan berbagai kenikmatan yang ada pada diri,
3.      Mensyukuri nikmat tersebut ,
4.      Bershalawat kepada Nabi Saw. dan keluarganya,
5.      Menyebutkan dosa-dosa yang pernah dikerjakan dan mengakuinya,
6.      Berlindung dari (melakukan) dosa-dosa tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar