Sumber
buku : Drs.Suprayetno W,M.A
1. Aspek-Aspek
Psikologis Doa
Di dalam berdoa manusia
bukan saja meminta kepada Allah , tetapi juga mengadukan segala persoalan dan
perasaanya kepada Allah. Doa dinyatakan oleh Rasulullah sebagai otak dari
ibadah.
Rasulullah SAW.
bersabda: “Doa merupakan otak ibadah”
(HR.Tirmidzi dari Anas
bin Malik)
Al-Tirmidzi, jilid 12,nomor 3698,hlm.262 menunjukkan
betapa pentingnya berdoa,sebab doa memiliki kedalaman untuk meresapkan
keberadaan Allah yang selanjutnya akan meningkatkan keimanan orang yang berdoa.
Seringkali dalam berdoa
seseorang mengalami kesulitan untuk menyatakan perasaanya, karena lidah atau
pikiran tidak mampu menterjemahkakan bahasa-bahasa hati. Secara psikologis doa
merupakan gabungan dari pernyataan-pernyataann manusia yang diiringi dengan
kondisi mental tertentu yang di tujukan kepada Allah.
Doa mengandung
keutamaan secara psikologis.
Pertama, doa dapat meningkatkan kekuatan spiritual
dan keimanan seseorang. Contohnya, seseorang yang khawatir akan kegagalan
usahanya berdoa kepada Allah untuk kesuksesan usahanya. Setelah berdoa ia
memiliki semangat tinggi untuk berusaha. Namun andaikan ia gagal, ia tidak akan
putus asa sebab ia yakin apa yang telah diberikan Allah adalah yang terbaik
untuknya. Orang yang selalu berdoa tidak akan mudah putus asa dan frustasi.
Sebab perasaan-perasaan negaif yang mendorongnya untuk frustasi dan putus asa
telah ia lebur bersama dengan doa-doa yang dipanjatkannya kepada Allah.
Kedua, doa meningkatkan persiapan spiritual seseorang
dalam mempersiapkan dirinya menghadapi Hari Akhir. Seorang Muslim memohon
keampunan Allah khawatir kelak ia mendapat tempat yang buruk (neraka) di Hari
Akhir. Dengan berdoa memohon keampunan Allah, ia tidak akan putus asa tentang
tempatnya di Hari Akhir nanti, dan ia memiliki kekuatan spiritual untuk
menyiapkan bekal yang sebaik-baiknya guna menghadapi Hari Akhir tersebut.
Ketiga, doa dapat meningkatkan rasa sosial manusia.
Sebab pada umumnya seseorang yang berdoa merasakan dan mengadukan
penderitaan-penderitaan yang dialaminya kepada Allah. Dengan demikian, hatinya
akan terlatih untuk melihat dan ikut merasakan penderitaan-penderitaan orang
lain, yang kelak akan melahirkan sikap social yang tinggi.
Keempat, doa juga dapat menurunkan tekanan-tekanan
jiwa yang dialami. Sebab dalam berdoa persoalan-persoalan yang dialami semuanya
diadukan kepada Allah sehingga persoalan-persoalan itu akan lebur bersama doa
dan tidak lagi berada di ambang sadar, melainkan ia telah mencuat kea lam
sadar. Secara otomatis setiap orang yang berdoa telah melakukan self-therapyatas
dirinya sendiri, sebagaimana Sigmund Freud menggunakan bentuk terapi asosiasi
verbal pada pasiennya.
1. Aspek-Aspek
Kependidikan Doa
Dalam berdoa manusia
dilatih untuk memanage persoalan-persoalannya dan keseluruhan-keseluruhan
jiwanya. Doa juga mengajarkan manusia untuk tidak mudah putus asa dan frustasi.
Sebab saat ia mendapati tidak ada lagi manusia tempatnya bergantung, ia masih
memiliki Allah sebagai tempat menggantungkan harapan-harapannya dan ia akan
tetap memiliki semangat berjuang, bekerja dan berusaha.
Demikian pula doa
mengajarkan kepada manusia untuk tidak takut menghadapi kesulitan. Sebab dari
doa-doa yang dipanjatkannya kepada Allah, ia menyadari bahwa ketika baru saja
ia berhasil menyelesaikan suatu kesulitan, ia telah memohon kepada Allah untuk
memberinya kekuatan menyelesaikan persoalan yang lain. Doa menyadarkan manusia
akan hakekat hidup di dunia, yakni untuk menjalani dan menyelesaikan kesulitan
demi kesulitan, dan kebahagiaan itu merupakan kesulitan yang telah
terselesaikan.
Sumber
buku : Rafy Sapuri, M.Si
Doa
Doa,
walaupun secara kasad mata susah untuk dipercaya, namun hati nurani manusia
tentu sudah banyak yang mengalami secara pribadi . Bahwa, betapa doa telah
mengubah hidupnya menjadi lebih optimis dalam menjalani rintangan dan cobaan
hidup. Sementara itu, doa tentunya akan lebih mampu membantu seseorang untuk
mencapai tujuan.
Tentang doa juga merupakan sebagai sebuah usaha
untuk mencapai sesuatu, dikuatkan oleh penelitian Larry Dossey yang
menimbulkan, bahwa “Orare est laborate est orare” yang berarti “Berdoa artinya bekerja,bekerja artinya
berdoa”. Segala usaha untuk mencapai sesuatu tidak akan sia-sia, asal dilakukan
dengan kesungguhan. Perbedaan adab berdoa, berarti memberikan perbedaan dalam
bekerja, dengan kata lain memberikan perbedaan dalam gaya belajar siswa.
Berkaitan
dengan doa, Fadlullah (2005:15-18) mengatakan, bahwa doa memiliki makna ibadah
yang dinamis dan mampu mengatasi setiap kondisi yang tidak dibatasi oleh waktu.
Nilai penting doa adalah mampu menyentuh ruang kesadaran manusia untuk
berhubugan dengan Allah SWT. Doa berarti menciptakan optimisme dalam jiwa,
sebagai antithesis terhadap sikap pesisimis dan lari dari tanggung jawab yang
diemban.
Nabi
Saw. Telah bersabda :
“Tidak ada sesuatu pun yang paling mulia selain
berdoa kepada Allah”.
(HR Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Hadis
ini memberikan pengertian, bahwa orang yang berdoa amat mulia di sisi Allah
Swt. Kemuliaan adalah lambang kesuksesan –kesuksesan berikutnya. Allah Swt.
Telah berjanji akan menambah nikmat
orang-orang yang selalu bersyukur dan dengan tegas akan memberikan adab yang
pedih, kepada siapapun yang mengingkari nikmat-nikmat yang telah diberikan oleh
Allah Swt. (QS Ibrahim:7)
Doa
sangat penting bagi perkembangan psikologis seseorang.
Ghazali menuliskan sebuah doa, yang erat kaitannya
dengan betapa pentingnya doa dan ilmu serta senantiasa memohon kepada Allah,
agar dianugrahi ilmu yang bermanfaat dan segala doa yang kita panjatkan
didengar, yaitu :
“ Ya Allah aku berlindung dari ilmu yang tidak
bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’ , dari amal yang tidak diterima dan
dari doa yang tidak didengar.”
Ghazali
mengatakan,bahwa jiwa (nafs) yang condong untuk menuntut ilmu disebut an-nafs
al-ammarah bi as-s u. Jiwa tahap ini masuk ke dalam kategori jiwa tingkat awal,
yaitu jiwa yang tidak menggambarkan kembali kepada Allah Swt. , sehingga
memiliki jarak yang jauh dengan Allah Swt. Dan termasuk kelompok (hizb) setan.
Rasulullah
Saw. bersabda :
“Barangsiapa yang bertambah ilmunya namun tidak
disertai dengan bertambahnya hidayah, maka tidak bertambah pada dirinya suatu
apa pun dari Allah selain bertambah jauh dari-Nya.”
Mazhahiri
(2002:199) menjelaskan, bahwa doa adalah kenikmatan yang paling nikmat. Doa
menjadikan manusia memutus keterikatan dan ketergantungan kepada selain Allah.
Doa meniupkan ketenangan dan ketentraman jiwa, juga membuat hari-harinya
diliputi oleh kebahagiaan dan ketenangan. Doa mampu melapangkan dada, sehingga
mudah menerima segala informasi dari luar dirinya tanpa penghalang. Doa mampu
menutupi berbagai kekurangan dari diri manusia, sehingga akan terangkat
martabatnya. Doa mampu membantu dan mengarahkan manusia dalam menemukan sesuatu
yang hilang dalam dirinya.
Doa
adalah ibadah. Ibadah akan membawa seseorang kuat, baik secara fisik maupun
mental.
Doa
berperan lebih jauh dari sekedar ibadah ritual, bahkan hampir mencakup semua
kegiatan ibadah. Dimana pun seseorang melakukan ibadah pasti ada doa dibalik
semua itu. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Luhai’ah, Nabi Saw. bersabda
:
“Doa adalah otaknya ibadah” (HR al-Tirmidzi)
Orang
yang berdoa, berarti telah berusaha menghadapkan segala urusan kepada Allah
Swt. Doa merupakan pernyataan tentang kelemahan manusia dihadapan kekuasaan
Allah Swt. , serta merupakan cara untuk mengingat-Nya. Semakin konsisten
seseorang melakukan doa dengan adab yang benar, akan semakin mendukung
kemampuan mereka dalam melakukan aktivitas positif.
1. Pengertian
Adab Berdoa
Kata “adab” dalam bahasa Indonesia diterjemahkan
Peter Salim dan Yenny Salim (1991:8) sebagai suatu “tingkah laku, akhlak atau
budi pekerti yang baik.”
Kata “adab” dalam bahasa Inggris diterjemahkan Hava
S.J (1964:5) dengan “good breeding, politeness, literature and culture of mind”
, yang artinya “Pendidikan yang baik, kesopanan, keteraturan dan kesopanan
berfikir.”
Rasulullah Saw. bersabda :
“Bukanlah seorang yatim itu yang telah meninggal
bapaknya, tapi seorang yatim itu adalah yatim ilmu dan adab. “ (HR Muslim)
Dengan demikian, adab berarti berkumpulnya tingkah
laku atau perangai dan cara berpikir yang baik dan indah pada diri seorang
hamba.
Ibadi (1980:9) membagi adab kedalam tiga
bagian,yaitu adab kepada Allah, adab kepada Al-Qur’an, dan adab kepada Rasul.
1. Adab
kepada Allah adalah dengan menaati segala perintah dan menjauhi segala yang
dilarang dan membersihkan segala sesuatu yang tidak cocok(yaliq) dengan
keagungan-Nya.
2. Adab
kepada Al-Qur’an adalah dengan meyakini isi dan mengamalkannya tanpa
memilah-milah atau membagi-baginya.
3. Adab
kepada Rasul adalah mencintai Rasul dengan cinta yang tak terbandingkan
daripada engkau mencintai seorang pun dari makhluk.
Jawziyyah
(1997:402-405) juga membagi adab kedalam tiga bagian, yaitu: adab kepada Allah,
adab kepada Rasul, dan adab kepada makhluk.
1. Adab
kepada Allah, diantaranya adalah harus tenang ketika sedang solat dan
memerhatikan bacaan, mengagungkan Allah ketika ruku , dan sebagainya. Adab
kepada Allah yang berarti “memegang teguh agama Allah dan mendidik diri lahir
dan batin ( dengan mengikuti ajaran agama).’’ Seseorang belum dianggap beradab
kepada Allah jika belum melakukan minimal 3 perkara,yaitu:
1. Mengetahui
nama-nama dan sifat-sifat-Nya,
2. Mengetahui
agama dan syariatnya
3. Jiwa
yang selalu siap menerima kebenaran dengan akal (‘ilman), tingkah laku
(‘amalan) dan kondisi (halan).
2. Adab
kepada Rasul, berarti mengamalkan Al-Qur’an dan yang paling pokok adalah member
salam juga mematuhi perintahnya.
3. Adab
kepada Makhluk , yaitu ada dalam pergaulan (mu amalah).
Kata “doa” dalam kamus bahasa
Indonesia versi Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (1997:714)
diterjemahkan dengan “permohonan atau permintaan”.
Dalam Ensiklopedi Islam (1994:316) Doa secara lisan
dan hati merupakan ucapan lisan dan getaran hati berupa permohonan serta pujian
kepada Allah Swt. ,dengan cara-cara tertentu.
Dalam Mu ‘jam fi Alfazh al-Qur’an dijelaskan bahwa
doa adalah seruan,permintaan,permohonan,pertolongan dan ibadah kepada Allah
Swt. supaya terhindar dari marabahaya dan mendapatkan manfaat.
Doa secara istilah
menurut Asqari (1997:626) adalah permohonan kepada Allah Swt. , agar Dia
mendatangkan sesuatu yang bermanfaat dan menjauhkannya dari segala bentuk
kemudaratan.
Menurut Sya’rawi
(2007:27) , doa adalah penghubung yang langsung antara Allah Swt. dengan hamba-hamba-Nya.
Menurut Mazhahiri
(2001:1), doa adalah merendahkan diri dan inabah (kembali) kepada Allah.
Menurut Fadhlullah
(2005:19), doa adalah gerakan yang menggugat kelemahan manusia agar meraih
spiritualitas yang tinggi dan penuh pengakuan dosa kepada Allah.
Menurut Hazrat Syah
Maqshud Angha dalam O’Riondan (2002:92), doa yang sesungguhnya adalah bersaksi
atas kemuliaan cahaya Tuhan, dan mengabdi penuh kepada Tuhan Yang Maha Agung
dalam cermin hati yang murni dan yakin.
Dengan demikian, doa
adalah sarana untuk berhubungan langsung dengan Allah Swt. , dengan
menyampaikan segala permohonan atau permintaan melalui gerakan berupa ucapan
lidah atau getaran hati, diawali dengan pengakuan dosa dan kelemahan diri
dengan tujuan agar terhindar dari bahaya baik secara lahir atau batin agar
mencapai tujuan.
Maka adab berdoa adalah
kumpulan tingkah laku atau perangai, cara berpikir dan bersitan hati yang baik
dan indah dalam menyampaikan permohonan agar mencapai sesuatu yang mulia di
sisi Allah Swt.
Menurut Ghazali
(2001:151), berdoa adalah respons terhadap Allah Swt. , keutamaan seseorang di
hadapan Tuhannya adalah karena kejuhudannya dan kehujudan itu ditandai oleh doa
yang selalu dilantunkannya sebagai manifestasi dan ungkapan kelemahan dan
ketidakberdayaannya di hadapan Allah Swt.
Menurut izutsu (1997:214),
hanya dalam situasi terbatas hati manusia dapat sepenuhnya murni dari semua
pikiran keduniaan. Jadi saat berdoa atau ketika melakukan permohonan kepada
Allah Swt, diperlukan saat yang baik dan tepat, karena pikiran manusia sangat
didominasi oleh hal-hal keduniawian.
Malik bin Dinar dalam
Ghazali (2001:151) berkata, bahwa doa yang dikabulkan adalah doa yang dilakukan
dengan keikhlasan.
Rasulullah Saw.
bersabda :
“Tidak ada
seorang Muslim dimuka bumi ini yang berdoa memohonkan sesuatu kepada Allah,
melainkan Allah mengabulkannya sebagaimana yang dimohonkannya, atau dipalingkan
Allah darinya suatu kecelakaan selama ia tidak mendoakan sesuatu yang
mengandung dosa atau memutuskan silaturrahim. Maka berkata seseorang kepada
Rasulullah, “kalau begitu baiklah kami memperbanyak doa.” Rasulullah
menjawab,”Allah menerima doa hamba-Nya lebih banyak lagi.”(HR al-Tirmidzi)
Hadis tersebut
menjelaskan bahwa setiap doa pada hakikatnya akan diijabah oleh Allah.
Dalam hadis lain
rasulullah Saw. menegaskan, bahwa ada di antara manusia yang tidak ditolat
doanya,yaitu :
Dari abi Hurairah r.a.
Nabi Saw. bersabda :
“Ada tiga golongan orang yang doanya
dikabulkan(mustajab) tidak ada keraguan di dalamnya. Yaitu doa orangtua, para
musafir dan doa orang yang teraniaya”(HR Ahmad, Abu Daud dan al-Tirmidzi)
Menurut Mazhahiri
(2002:10), setidaknya selain dikabulkan doa juga memiliki enam
manfaat dan keuntungan, yaitu :
1. Doa
merupakan kenikmatan yang paling tinggi, bahkan bagi sebagian pihak merupakan
kenikmatan yang tiada taranya.
2. Berdoa
berarti sama sekali tidak berharap kepada selain Tuhan Yang Maha Tinggi serta
hanya bergantung dan memohon kepada-Nya.
3. Menepis
musibah,kesulitan,kesedihan,kesusahan,rasa takut dan tekanan batin.
4. Sebagai
pengganti berbagai kekurangan dan ketidakmampuan manusia.
5. Melapangkan
dada, membesarkan jiwa serta menjadikan manusia mampu bersikap tegar dan tabah
dalam menghadapi kesulitan, musibah dan bencana.
6. Menjadikan
manusia menemukan sesuatu yang hilang dari dirinya, yakni Allah Yang Maha
Tinggi.
Allah menggambarkan perilaku manusia yang seperti
ini dalam Al-Qur’an :
Dan apabila manusia itu
ditimpa ke-mudharat-an, dia memohon (pertolongan) kepada Tuhan-nya dengan
kembali kepada-Nya; kemudian apabila Tuhan memberikan nikmatnya lupalah dia
akan ke-mudharat-an yang pernah dia berdoa (kepada Allah) untuk
(menghilangkannya) sebelum itu, dan dia mengada-adakan sekutu-sekutu bagi Allah
untuk menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah: “Bersenang-senanglah
dengan kekafiranmu itu sementara waktu; sesungguhnya kamu termasuk penghuni
neraka” (QS Al-Zumar:8)
Allah Swt. pada
prinsipnya selalu mengabulkan doa siapapun yang berdoa,selama doa itu baik untuk kemaslahatan orang yang berdoa
tersebut. Namun, tidak semua yang dimohonkan akan langsung diterima oleh yang
berdoa dan dirasakan efeknya dengan bermacam-macam alasan. Alasan Allah Swt.
mengabulkan doa seorang hamba disesuaikan dengan janji-janji Allah Swt. dan
Rasul-Nya yang tertulis didalam Al-Qur’an dan Hadis.
Pertama, berkenaan
dengan adab kepada Allah, seperti Allah akan menerima doa yang didahului dengan
memuji nama-nama-Nya, tidak kafir dan sebagainya.
Kedua, berkenaan dengan
adab kepada Rasulullah, seperti doa akan diterima setelah orang tersebut
bershalawat kepadanya dan siapapun dari makhluk Allah Swt. yang dizalimi akan
dikabulkan doanya oleh Allah.
Rasulullah Saw.
bersabda :
“Setiap doa terhalang (tidak diterima) sehingga
diucapkan shalawat kepada Nabi Saw.” (HR al-Tirmidzi)
Ketiga, berkenaan
dengan makhluk.
Semakin seseorang tidak memiliki kendala pada sesama
makhluk dan Rasulullah ridha kepadanya, maka diasumsikan ketika ia berdoa akan
langsung diijabah oleh Allah Swt.
1. Dalil
– dalil Tentang Doa
Rasulullah Saw.
bersabda:
Dari Nu’man bin Basyir, bahwasanya Rasulullah
Saw.bersabda: “Sesungguhnya doa adalah ibadah,” kemudian membaca, “Berdoalah
aku akan mengabulkannya, sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari
menyembahku akan masuk kedalam neraka Jahannam dalam keadaan hina.” (HR Ahmad)
Allah menjamin bahwa
apa yang diminta akan dikabulkannya, bahkan mengancam mereka yang menyombongkan
diri dalam beribadah dengan tidak mau berdoa dan memohon kepada-Nya.
Mazhahiri (2002:12)
mengatakan, bahwa sebaik-baik kondisi manusia adalah tatkala dirinya berada
dalam kondisi gemar berdoa.
Rasulullah Saw.
bersabda :
Dari Abi Hurairah r.a. Nabi Saw. bersabda: “Allah
azza wa jalla, berfirman: Hamba-Ku ada pada prasangkanya terhadap-Ku dan Aku
bersamanya apabila ia berdoa kepada-Ku.” (HR Ibnu Majah)
Hadis tersebut
menjelaskan bahwa sebenarnya Allah Swt. amat dekat dengan hamba-hamba-Nya.
Dari Ibnu Mas’ud Nabi
bersabda :
Mintalah karunia Allah Swt., sebab Ia sangat suka
bila diminta sesuatu. Dan ibadah paling utama adalah menunggu datangnya
keselamatan dari bencana.” (HR al-Tirmidzi)
Ayat Al-Qur’an yang
berhubungan dengan perintah dan tata cara(manhaj) berdoa adalah :
“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan
suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui
batas” (QS Al-A’raf:55)
Allah Swt. berfirman :
Dan janganlah kamu membuat kerusakan dimuka bumi
sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut
(tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah
amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS Al-A’raf:56)
Allah Swt. juga
berfirman :
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang
Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan
orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu
memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-KU, agar
mereka selalu berada dalam kebenaran. (QS Al-Baqarah:186)
Allah Swt. berfirman :
Penjaga Jahannam berkata : “ Dan apakah belum datang
kepada kamu rasul-rasulmu dengan membawa keterangan-keterangan?” Mereka
menjawab: “Benar, sudah dating. “Penjaga-penjaga Jahannam berkata: “Berdoalah
kamu.” Dan doa orang-orang kafir itu hanyalah sia-sia belaka. (QS Al-Mu’min:50)
Segala doa akan
diterima oleh Allah Swt.,kecuali doa orang kafir.
Ketahuilah, Allah Swt. lebih mengetahui apa yang
terbaik untuk ciptaan-Nya.
Allah Swt. berfirman :
Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya
akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri
dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina. (QS
Al-Mu’min:60)
Orang yang sombong
adalah orang yang tidak mau mengenal diri,lingkungan dan Allah Swt.
Doa merupakan sebuah
cara untuk menunjukkan akan ketidakmampuan dan membuang jauh rasa sombong yang
ada pada diri.
Dari ayat-ayat diatas
dapat diambil kesimpulan, sebagai berikut: dalam berdua, hendaklah seseorang
melakukan dengan penuh kerendahan hari (tadharru), yaitu tidak dengan
kesombongan,ujub atau riya. Rendah hati berarti juga rela(ridha) terhadap
keputusan Allah Swt.
Kemudian dalam berdoa
juga harus dengan suara yang lembut (khufyah), yaitu suara yang tidak bernada
tinggi hingga terdengar seakan-akan memaksa, tidak dengan tergesa-gesa, tapi
harus dihayati maknanya dengan penuh perhatian.
Allah Swt. menyukai
orang yang berdoa dengan penuh rasa takut (khauf). Sekiranya, doa manusia tidak
terkabulkan karena lalai kepada perintah-Nya, kemudian disusul dengan harapan
yang sungguh-sungguh bahwa doa yang dipanjatkan tersebut benar-benar diharapkan
agar dikabulkan.
Doa yang baik adalah
doa untuk kebutuhan dunia dan akhirat. Doa seorang mu’min akan dikabulkan jika
itu baik untuknya. Berbeda dengan orang kafir, yaitu mereka yang mengingkari
Allah Swt. dan Muhammad Saw. Mereka akan dikabulkan doanya, tapi hanya sekedar
untuk kebutuhan dunia belaka.
Orang yang berdoa mencirikan
bahwa dirinya adalah lemah, tidak memiliki kuasa apa pun, selain karna
pertolongan Allah Swt. semata.
Kemudian, perlu
diyakini didalam berdoa bahwa tidak ada seorang pun yang pernah kecewa dengan
doa yang dipanjatkan kepada Allah Swt.
Allah mengisahkan
tentang Nabi Zakaria dalam Firman-Nya :
Ia berkata,”Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah
lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum peranh kecewa dalam
berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku.” (QS Maryam:4)
Allah juga berfirman
tentang Nabi Ibrahim a.s :
Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa
yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, mudah-mudahan
aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku. (QS Maryam:48)
Dengan merujuk pada
ayat-ayat tentang doa di atas, penulis mengambil beberapa kesimpulan,
berdasarkan pada metode tafsir tematik, yaitu : Allah Swt. senang kepada
hamba-Nya yang berdoa. Orang yang tidak pernah berdoa adalah orang yang hina.
Doa adalah mediator seorang hamba kepada Tuhan,berendah diri, dengan suara yang
lembut, menggunakan nama-nama-Nya yang indah, bershalawat kepada Nabi Muhammad
Saw., tidak melampaui batas, dengan rasa takut (tidak akan diterima). Dengan
harapan (akan dikabulkan). Membaca doa dengan tidak tergesa-gesa, berbuat amal
kebajikan agar dekat dengan rahmat Allah Swt., merasakan kehadiran Allah Swt.
Syarat terkabulnya doa
adalah beriman kepada Allah Swt. Tidak kafir, sebab doa orang yang kafir itu
sia-sia belaka. Tidak sombong, sebab orang sombong akan ditempatkan kedalam
neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.
2. Adab
Berdoa
Ghazali
(1996:119) mengatakan, adab berdoa adalah hendaknya mempunyai hati yang khusyu’
(khusyu’ al-qalb), berkonsentrasi , menampakkan kehinaan, memandang secara
baik, merendahkan diri, meminta layaknya orang papa, meminta tolong layaknya
orang tenggelam. Mengenal kemampuan dirinya dan keagungan zat yang diminta,
mengangkat tangan saat cemas, yakin bahwa Allah akan mengabulkan, cemas
kalau-kalau gagal, menunggu datangnya pertolongan, menghilangkan sikap
permusuhan, mempunyai niat yang benar dan mengusap wajah dengan bagian dalam
telapak tangan selesai berdoa.
Kombinasi
dari adab berdoa Ghazali, Ibadi dan Jawziyyah, yaitu :
1. Berdoa
dengan nama Allah yang indah
2. Selalu
mengonsumsi makanan yang halal
3. Menghadapi
kiblat jika memungkinkan
4. Hari
jumat
5. Mengangkat
kedua tangan sampai sebahu
6. Memulai
dengan memuji, mengagungkan dan memuliakan-Nya
7. Menghindari
doa yang berisi keburukan
8. Tadharru’
(merendahkan diri), khusu’ , raghbah (berharap untuk dikabulkan) dan rahbah
(rasa takut tidak dikabulkan)
9. Merendahkan
suara
10. Berdoa
dengan keyakinan pasti dikabulkan
11. Berdoa
tanpa dosa dan tidak memutus silaturrahim
12. Mengangkat
kedua tangan sewaktu berdoa
13. Berdoa
dengan penuh konsentrasi
14. Mengusap
wajah dengan bagian dalam telapak tangan selesai berdoa
15. Dengan
penuh kesungguhan
Menurut Ja’far as-Shadiq dalam Mazhahiri (2002:118),
doa akan dikabulkan jika sesuai dengan urut-urutan doa, yaitu :
1. Memulai
doa dengan memuji Allah Swt. ,
2. Menyebutkan
berbagai kenikmatan yang ada pada diri,
3. Mensyukuri
nikmat tersebut ,
4. Bershalawat
kepada Nabi Saw. dan keluarganya,
5. Menyebutkan
dosa-dosa yang pernah dikerjakan dan mengakuinya,
6. Berlindung
dari (melakukan) dosa-dosa tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar