Pengembangan
diri Meningkatkan Kepribadian
1.
Tetaplah
tersenyum
Usahakan
tetap tersenyum betapa pun Anda memiliki hari-hari yang tidak menyenangkan. Hal
ini mungkin terasa seperti terpaksa saat itu tapi Anda kemudian akan
terheran-heran begitu besar senyum dapat meningkatkan spirit Anda.
2.
Pandai
mengontrol diri
Ekspresi
wajah merupakan salah satu tanda yang menggambarkan perasaan Anda yang paling
mudah dikenali. Upayakan ekspresi mimik muka Anda netral sekalipun ketika Anda
tengah marah atau stress dan jangan biarkan dahi berkerut karena kerutan itu
perlahan-lahan akan membuat Anda tampak lebih tua.
3.
Tetap
berkomunikasi
Menuntut
dan menolak berkomunikasi secara emosi hanya bakal membuat masalah lebih runyam
jika hari-hari Anda tetap penuh dengan kegelisahan dan ketegangan tidak masalah
apapun situasinya cobalah membuat segala sesuatu mudah dan teratur dengan
membiarkan berkomunikasi kepada teman atau rekan kerja Anda.
4.
Rasakan perasaan
orang
Pikiran
bagaimana Anda ingin diperlakukan orang lain sebelum Anda memuntahkan perasaan
kesal kepada orang lain. Tak ada seorang pun disekitar Anda yang ingin menjadi
objek cemberut Anda. Jika Anda tidak ingin diperlukan seperti itu jangan
memperlakukan orang lain seperti itu juga.
5.
Memiliki rasa
humor
Seberapa pun bertanya
hari-hari Anda, cobalah untuk tidak menghilangkan perasaan humor. Tertawa itu
baik bagi jiwa dan membantu membuat orang sekitar Anda merasa lebih baik dan
tunjukkan Anda memiliki kepribadian baik.
Saran-saran Peter Lauster
Dari
buku Peter Lauster , yang berjudul Personality Test yang diterjemahkan oleh D H
Gulo, diturunkan dibawah ini beberapa aspek psikis yang dapat dipergunakan
unutk membantu pembentukan pribadi ataupun meningkatkan kepribadian.
Aspek-aspek tersebut ialah :
a. Kepercayaan
kepada diri sendiri
Kita tidak perlu berpura-pura dengan
rasa kepercayaan diri kita sendiri tetapi mengembangkannya dari dalam
kepribadian kita.
b. Sikap
optimis
Orang yang optimis secara tak sadar
menggunakan kemampuan dan kekuatannya yang efektif, sikapnya positif dan terbuka.
c. Sikap
berhati-hati
Sikap menantang resiko harus dihindari
tapi tidak berarti seorang yang sangat hati-hati lebih baik.
d. Sikap
tergantung kepada orang lain
Kita harus membuang semua harapan dan
pengharapan, agar kita dapat membebaskan diri dari ketergantungan , ketakutan
dan kekhawatiran kita terhadap orang lain.
e. Ketahanan
menghadapi cobaan
Suatu cobaan yang dapat hampir
mematahkan seseorang, bagi orang lain dapat diatasi dengan mudah.
f.
Ambisi
Ambisi adalah dorongan untuk mencapai
hasil yang diperlihatkan dan dihargai oleh orang lain. Menurut ilmu jiwa
keberhasilan dimaksudkan untuk mempertinggi rasa harga diri sendiri dan
memperkuat kesadaran atas diri sendiri.
g. Kepekaan
Sosial (Empati)
Empati sosial adalah kesanggupan untuk
merasakan pengalaman orang lain, atau kemampuan untuk merasakan perasaan,
suasana hati dan pikiran orang lain. Dengan kata lain, merasakan apa yang
dirasakan orang lain. [1]
Jalan Menuju Perubahan Kepribadian
Tipe ideal Kepribadian
Sehat
Sifat-sifat kepribadian
seorang arahat diubah secara permanen; semua motif, persepsi, perbuatan yang
sebelumnya dilakukan dibawah faktor-faktor yang tidak sehat akan lenyap. Rune
Johansson, dalam The psychology of nirvana (1970), telah memilih dari
sumber-sumber Abhidhamma sifat-sifat kepribadian arahat. Daftar sifat-sifat
yang mengemukakannya mencakup :
1.
Bebas dari :
ketamakan terhadap hasrat-hasrat indra; kecemasan , kebencian atau aneka macam
ketakutan; aneka dogmatisme seperti keyakinan bahwa inilah atau itulah
“Kebenaran” kemuakan terhadap kondisi-kondisi seperti kehilangan, dipermalukan,
rasa sakit atau dipersalakan; perasaan hawa nafsu atau marah;
pengalaman-pengalaman penderitaan, kebutuhan akan peneguhan, kenikmatan atau
pujian; keinginan akan sesuatu untuk diri sendiri melebihi hal-hal yang pokok
dan diperlukan,
2.
Kaya dengan:
sikap netral terhadap orang-orang lain dan tenang dalam semua situasi;
kesiap-siagaan dan kegembiraan dalam menghadapi pengalaman, secara tenang tidak
peduli apakah pengalaman itu biasa atau malahan membosankan; perasaan-perasaan
belas kasihan yang kuat dan kebaikan hati yang penuh kasih ; persepsi yang
cepat dan tepat; ketenangan dan keterampilan dalam bertindak; keterbukaan
kepada orang-orang lain dan kepekaan terhadap kebutuhan mereka. [2]
Penerapan
: Aktualisasi diri sebagai corak hidup ideal
Dalam teori kepribadian
Humanistik Maslow,pencapaian aktualisasi diri merupakan penggambaran optimistis
dari corak kehidupan yang ideal. Sebagaimana yang telah kita ketahui, pencapain
aktualisasi diri itu memerlukan banyak syarat yang tidak mudah untuk
memenuhinya. Maslow sendiri menyebutkan bahwa syarat yang paling pertama
dan utama bagi pencapaian aktualisasi
diri itu adalah terpuaskannya kebutuhan-kebutuhan dasar dengan baik.
Pengetahuan mengenai
ciri-ciri orang yang self-actualized (aktualisasi diri), menurut Maslow, tetap
memiliki arti penting , yakni sebagai patokan atau standart untuk mengukur
kemajuan diri, sekaligus sebagai standart untuk perbaikan diri.
1.
Mengamati
realita secara efisien
Barangkali
ciri yang paling penting menonjol pada orang-orang yang self- actualized adalah
kemampuannya untuk mengamati realitas dengan cermat dan efisien, melihat
realitas apa adanya tanpa dicampuri oleh keinginan-keinginan atau
harapan-harapannya.
2.
Penerimaan atas
diri sendiri, orang lain dan kodrat
Orang-orang
yang self- actualized menaruh hormat
kepada dirinya sendiri dan kepada orang lain, serta mampu menerima kodrat
dengan segala kekurangan dan kelemahannya secara tawakal.
Tentang
penerimaan orang-orang yang self- actualized ini Maslow menulis :
“Seperti halnya anak-anak yang melihat
dunia dengan luas, polos, tanpa keritik dan tanpa tuntutan-tuntutan, mereka
(orang-orang yang self- actualized) cendrung melihat kodrat manusia sebagaimana
yang mereka temukan dalam dirinya dan dalam diri orang lain, apa adanya.”
3.
Spontan,
sederhana dan wajar
Tingkah
laku orang-orang yang self- actualized adalah spontan, sederhana, tidak
dibuat-buat atau wajar dan tidak terikat. Spontanitas, kesederhanaan dan
kewajaran tingkah laku orang-orang yang self- actualized itu bersumber dari
dalam pribadinya, dan bukan sesuatu yang hanya nampak di permukaan.
4.
Terpusat pada
masalah
Maslow
menemukan bahwa subjek-subjeknya adalah orang-orang yang selalu terlibat secara
mendalam pada tugas, pekerjaan atau misi yang mereka pandang penting. Dedikasi
terhadapat tugas atau pekerjaan merupakan bagian dari misi hidup mereka. Maslow
mencatat bahwa pekerjaan yang dilaksanakan oleh orang-orang yang self-
actualized adalah pekerjaan non-personal atau tidak ditujukan untuk kepentingan
pribadi.
5.
Pemisahan diri
dan kebutuhan privasi
Dalam
pergaulan sosial mereka sering dianggap memisahkan diri, hati-hati, sombong dan
dingin. Ini disebabkan orang-orang yang self- actualized tidak membutuhkan
orang lain dalam kacamata persahabatan biasa, dan mereka sepenuhnya percaya
atas potensi-potensi dan otonomi yang mereka miliki.
6.
Kemandirian dari
kebudayaan dan lingkungan
Orang-orang
yang self- actualized tidak menggantungkan kepuasan-kepuasannya yang utama
kepada lingkungan dan orang lain. Mereka lebih bergantung kepada
potensi-potensi merka sendiri bagi perkembangan dan kelangsungan
pertumbuhannya. Kemandirian dari lingkungan juga berarti kemantapan yang
relative terhadap pukulan-pukulan, goncangan-goncangan atau frustasi-frustasi.
7.
Kesegaran dan
apresiasi
Maslow
mengemukakan bahwa para subjeknya menunjukkan kesanggupan untuk menghargai
bahkan terhadap hal-hal yang biasa sekalipun. Mereka, menurut Maslow, meghargai
hal-hal yang pokok dalam kehidupan dengan rasa kagum,gembira dan bahkan heran,
meski bagi orang lain hal-hal tersebut membosankan. Bagi orang-orang yang self-
actualized kehidupan yang rutin akan tetap merupakan fenomena baru yang mereka
hadapi dengan ”keharuan”, kesegaran dan apresiasi.
8.
Pengalaman puncak
dan pengalaman mistik
Pengalaman
puncak menunjuk kepada momen-momen dari perasaan yang mendalam dan meningginya
tegangan seperti yang dihasilkan oleh relaksasi dan orgasme seksual. Pengalaman
puncak ini menurut Maslow, diperoleh subjek dari krestivitas , pemahaman,
penemuan dan penyatuan diri dengan alam.
9.
Minat Sosial
Meskipun
orang-orang yang self- actualized itu kadang-kadang merasa terganggu, sedih dan
marah tetapi mereka mengalami ikatan perasaan yang mendalam pada sesamanya.
Konsekuensinya mereka memiliki hasrat yang tulus untuk membantu memperbaiki
sesamanya.
10.
Hubungan
antarpribadi
Orang-orang
yang self- actualized cendrung menciptakan hubungan antarpribadi yang lebih
mendalam dibandingkan dengan kebanyakan orang. Mereka cendrung membangun
hubungan yang dekat dengan orang-orang yang memiliki kesamaan karakter,
kesanggupan, dan bakat, dan biasanya lingkup persahabatan mereka relative
kecil.
11.
Berkarakter
demokratis
Maslow
menyatakan bahwa orang-orang yang self- actualized memiliki karakter demokratis
dalam pengertiannya yang terbaik. Karena mereka bebas dari prasangka, maka
mereka cenderung menaruh hormat kepada semua orang. Lebih dari itu mereka
bersedia untuk belajar dari siapa saja yang bisa mengajar mereka tanpa
memandang derajat, pendidikan, usia, ras ataupun keyakinan-keyakinan politik.
12.
Perbedaan antara
cara dan tujuan
Maslow
mengemukakan bahwa para subjeknya juga memiliki kemampuan membedakan antara
cara dan tujuan, dan mereka umumnya terpusat kepada tujuan. Mereka, menurut
Maslow, memiliki kecendrungan secara mutlak menilai tindakan demi tindakan itu
sendiri dan demi tindakan itu mereka sering dapat menikmati perjalanan ke suatu
tujuan maupun tibanya di tujuan itu.
13.
Rasa humor yang
filosofis
Menurut
Maslow adalah memiliki rasa humor yang filosofis (sense of phylosophycal
humor). Sementara kebanyakan orang menyukai humor yang kelucuannya bertolak
dari kelemahan dan penderitaan orang lain dengan tujuan untuk mengejek atau
menertawakan orang lain, dengan rasa humornya yang filosofis orang-orang yang self-
actualized menyukai humor yang mengekspresikan kritik atas kebodohan,
kelancungan atau kecurangan manusia.
14.
Kreativitas
Maslow
mengartikan kreativitas pada orang-orang yang self- actualized sebagai suatu
bentuk tindakan asli, naïf dan spontan sebagaimana yang dijumpai pada anak-anak
yang masih polos dan jujur.
15.
Penolakan
enkulturasi
Ciri
yang terakhir dari orang-orang yang self- actualized ini menunjukkan bahwa
mereka adalah orang-orang otonom yang bisa dan berani membuat
keputusan-keputusan sendiri, bahkan meskipun keputusan-keputusannya itu berbeda
atau bertentangan dengan pendapat umum. [3]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar