Senin, 06 Oktober 2014

Psikologi Kepribadian



Pengembangan diri Meningkatkan Kepribadian
1.      Tetaplah tersenyum
Usahakan tetap tersenyum betapa pun Anda memiliki hari-hari yang tidak menyenangkan. Hal ini mungkin terasa seperti terpaksa saat itu tapi Anda kemudian akan terheran-heran begitu besar senyum dapat meningkatkan spirit Anda.
2.      Pandai mengontrol diri
Ekspresi wajah merupakan salah satu tanda yang menggambarkan perasaan Anda yang paling mudah dikenali. Upayakan ekspresi mimik muka Anda netral sekalipun ketika Anda tengah marah atau stress dan jangan biarkan dahi berkerut karena kerutan itu perlahan-lahan akan membuat Anda tampak lebih tua.
3.      Tetap berkomunikasi
Menuntut dan menolak berkomunikasi secara emosi hanya bakal membuat masalah lebih runyam jika hari-hari Anda tetap penuh dengan kegelisahan dan ketegangan tidak masalah apapun situasinya cobalah membuat segala sesuatu mudah dan teratur dengan membiarkan berkomunikasi kepada teman atau rekan kerja Anda.
4.      Rasakan perasaan orang
Pikiran bagaimana Anda ingin diperlakukan orang lain sebelum Anda memuntahkan perasaan kesal kepada orang lain. Tak ada seorang pun disekitar Anda yang ingin menjadi objek cemberut Anda. Jika Anda tidak ingin diperlukan seperti itu jangan memperlakukan orang lain seperti itu juga.
5.      Memiliki rasa humor
Seberapa pun bertanya hari-hari Anda, cobalah untuk tidak menghilangkan perasaan humor. Tertawa itu baik bagi jiwa dan membantu membuat orang sekitar Anda merasa lebih baik dan tunjukkan Anda memiliki kepribadian baik.



Saran-saran Peter Lauster
Dari buku Peter Lauster , yang berjudul Personality Test yang diterjemahkan oleh D H Gulo, diturunkan dibawah ini beberapa aspek psikis yang dapat dipergunakan unutk membantu pembentukan pribadi ataupun meningkatkan kepribadian. Aspek-aspek tersebut ialah :
a.       Kepercayaan kepada diri sendiri
Kita tidak perlu berpura-pura dengan rasa kepercayaan diri kita sendiri tetapi mengembangkannya dari dalam kepribadian kita.
b.      Sikap optimis
Orang yang optimis secara tak sadar menggunakan kemampuan dan kekuatannya yang efektif, sikapnya positif dan terbuka.
c.       Sikap berhati-hati
Sikap menantang resiko harus dihindari tapi tidak berarti seorang yang sangat hati-hati lebih baik.
d.      Sikap tergantung kepada orang lain
Kita harus membuang semua harapan dan pengharapan, agar kita dapat membebaskan diri dari ketergantungan , ketakutan dan kekhawatiran kita terhadap orang lain.
e.       Ketahanan menghadapi cobaan
Suatu cobaan yang dapat hampir mematahkan seseorang, bagi orang lain dapat diatasi dengan mudah.
f.        Ambisi
Ambisi adalah dorongan untuk mencapai hasil yang diperlihatkan dan dihargai oleh orang lain. Menurut ilmu jiwa keberhasilan dimaksudkan untuk mempertinggi rasa harga diri sendiri dan memperkuat kesadaran atas diri sendiri.
g.       Kepekaan Sosial (Empati)
Empati sosial adalah kesanggupan untuk merasakan pengalaman orang lain, atau kemampuan untuk merasakan perasaan, suasana hati dan pikiran orang lain. Dengan kata lain, merasakan apa yang dirasakan orang lain. [1]

Jalan Menuju Perubahan Kepribadian

Tipe ideal Kepribadian Sehat
Sifat-sifat kepribadian seorang arahat diubah secara permanen; semua motif, persepsi, perbuatan yang sebelumnya dilakukan dibawah faktor-faktor yang tidak sehat akan lenyap. Rune Johansson, dalam The psychology of nirvana (1970), telah memilih dari sumber-sumber Abhidhamma sifat-sifat kepribadian arahat. Daftar sifat-sifat yang mengemukakannya mencakup :
1.      Bebas dari : ketamakan terhadap hasrat-hasrat indra; kecemasan , kebencian atau aneka macam ketakutan; aneka dogmatisme seperti keyakinan bahwa inilah atau itulah “Kebenaran” kemuakan terhadap kondisi-kondisi seperti kehilangan, dipermalukan, rasa sakit atau dipersalakan; perasaan hawa nafsu atau marah; pengalaman-pengalaman penderitaan, kebutuhan akan peneguhan, kenikmatan atau pujian; keinginan akan sesuatu untuk diri sendiri melebihi hal-hal yang pokok dan diperlukan,
2.      Kaya dengan: sikap netral terhadap orang-orang lain dan tenang dalam semua situasi; kesiap-siagaan dan kegembiraan dalam menghadapi pengalaman, secara tenang tidak peduli apakah pengalaman itu biasa atau malahan membosankan; perasaan-perasaan belas kasihan yang kuat dan kebaikan hati yang penuh kasih ; persepsi yang cepat dan tepat; ketenangan dan keterampilan dalam bertindak; keterbukaan kepada orang-orang lain dan kepekaan terhadap kebutuhan mereka. [2]



Penerapan : Aktualisasi diri sebagai corak hidup ideal

Dalam teori kepribadian Humanistik Maslow,pencapaian aktualisasi diri merupakan penggambaran optimistis dari corak kehidupan yang ideal. Sebagaimana yang telah kita ketahui, pencapain aktualisasi diri itu memerlukan banyak syarat yang tidak mudah untuk memenuhinya. Maslow sendiri menyebutkan bahwa syarat yang paling pertama dan  utama bagi pencapaian aktualisasi diri itu adalah terpuaskannya kebutuhan-kebutuhan dasar dengan baik.
Pengetahuan mengenai ciri-ciri orang yang self-actualized (aktualisasi diri), menurut Maslow, tetap memiliki arti penting , yakni sebagai patokan atau standart untuk mengukur kemajuan diri, sekaligus sebagai standart untuk perbaikan diri.

1.      Mengamati realita secara efisien
Barangkali ciri yang paling penting menonjol pada orang-orang yang self- actualized adalah kemampuannya untuk mengamati realitas dengan cermat dan efisien, melihat realitas apa adanya tanpa dicampuri oleh keinginan-keinginan atau harapan-harapannya.
2.      Penerimaan atas diri sendiri, orang lain dan kodrat
Orang-orang yang  self- actualized menaruh hormat kepada dirinya sendiri dan kepada orang lain, serta mampu menerima kodrat dengan segala kekurangan dan kelemahannya secara tawakal.
Tentang penerimaan orang-orang yang self- actualized ini Maslow menulis :
      “Seperti halnya anak-anak yang melihat dunia dengan luas, polos, tanpa keritik dan tanpa tuntutan-tuntutan, mereka (orang-orang yang self- actualized) cendrung melihat kodrat manusia sebagaimana yang mereka temukan dalam dirinya dan dalam diri orang lain, apa adanya.”
3.      Spontan, sederhana dan wajar
Tingkah laku orang-orang yang self- actualized adalah spontan, sederhana, tidak dibuat-buat atau wajar dan tidak terikat. Spontanitas, kesederhanaan dan kewajaran tingkah laku orang-orang yang self- actualized itu bersumber dari dalam pribadinya, dan bukan sesuatu yang hanya nampak di permukaan.
4.      Terpusat pada masalah
Maslow menemukan bahwa subjek-subjeknya adalah orang-orang yang selalu terlibat secara mendalam pada tugas, pekerjaan atau misi yang mereka pandang penting. Dedikasi terhadapat tugas atau pekerjaan merupakan bagian dari misi hidup mereka. Maslow mencatat bahwa pekerjaan yang dilaksanakan oleh orang-orang yang self- actualized adalah pekerjaan non-personal atau tidak ditujukan untuk kepentingan pribadi.
5.      Pemisahan diri dan kebutuhan privasi
Dalam pergaulan sosial mereka sering dianggap memisahkan diri, hati-hati, sombong dan dingin. Ini disebabkan orang-orang yang self- actualized tidak membutuhkan orang lain dalam kacamata persahabatan biasa, dan mereka sepenuhnya percaya atas potensi-potensi dan otonomi yang mereka miliki.
6.      Kemandirian dari kebudayaan dan lingkungan
Orang-orang yang self- actualized tidak menggantungkan kepuasan-kepuasannya yang utama kepada lingkungan dan orang lain. Mereka lebih bergantung kepada potensi-potensi merka sendiri bagi perkembangan dan kelangsungan pertumbuhannya. Kemandirian dari lingkungan juga berarti kemantapan yang relative terhadap pukulan-pukulan, goncangan-goncangan atau frustasi-frustasi.
7.      Kesegaran dan apresiasi
Maslow mengemukakan bahwa para subjeknya menunjukkan kesanggupan untuk menghargai bahkan terhadap hal-hal yang biasa sekalipun. Mereka, menurut Maslow, meghargai hal-hal yang pokok dalam kehidupan dengan rasa kagum,gembira dan bahkan heran, meski bagi orang lain hal-hal tersebut membosankan. Bagi orang-orang yang self- actualized kehidupan yang rutin akan tetap merupakan fenomena baru yang mereka hadapi dengan ”keharuan”, kesegaran dan apresiasi.


8.      Pengalaman puncak dan pengalaman mistik
Pengalaman puncak menunjuk kepada momen-momen dari perasaan yang mendalam dan meningginya tegangan seperti yang dihasilkan oleh relaksasi dan orgasme seksual. Pengalaman puncak ini menurut Maslow, diperoleh subjek dari krestivitas , pemahaman, penemuan dan penyatuan diri dengan alam.
9.      Minat Sosial
Meskipun orang-orang yang self- actualized itu kadang-kadang merasa terganggu, sedih dan marah tetapi mereka mengalami ikatan perasaan yang mendalam pada sesamanya. Konsekuensinya mereka memiliki hasrat yang tulus untuk membantu memperbaiki sesamanya.
10.  Hubungan antarpribadi
Orang-orang yang self- actualized cendrung menciptakan hubungan antarpribadi yang lebih mendalam dibandingkan dengan kebanyakan orang. Mereka cendrung membangun hubungan yang dekat dengan orang-orang yang memiliki kesamaan karakter, kesanggupan, dan bakat, dan biasanya lingkup persahabatan mereka relative kecil.
11.  Berkarakter demokratis
Maslow menyatakan bahwa orang-orang yang self- actualized memiliki karakter demokratis dalam pengertiannya yang terbaik. Karena mereka bebas dari prasangka, maka mereka cenderung menaruh hormat kepada semua orang. Lebih dari itu mereka bersedia untuk belajar dari siapa saja yang bisa mengajar mereka tanpa memandang derajat, pendidikan, usia, ras ataupun keyakinan-keyakinan politik.
12.  Perbedaan antara cara dan tujuan
Maslow mengemukakan bahwa para subjeknya juga memiliki kemampuan membedakan antara cara dan tujuan, dan mereka umumnya terpusat kepada tujuan. Mereka, menurut Maslow, memiliki kecendrungan secara mutlak menilai tindakan demi tindakan itu sendiri dan demi tindakan itu mereka sering dapat menikmati perjalanan ke suatu tujuan maupun tibanya di tujuan itu.

13.  Rasa humor yang filosofis
Menurut Maslow adalah memiliki rasa humor yang filosofis (sense of phylosophycal humor). Sementara kebanyakan orang menyukai humor yang kelucuannya bertolak dari kelemahan dan penderitaan orang lain dengan tujuan untuk mengejek atau menertawakan orang lain, dengan rasa humornya yang filosofis orang-orang yang self- actualized menyukai humor yang mengekspresikan kritik atas kebodohan, kelancungan atau kecurangan manusia.
14.  Kreativitas
Maslow mengartikan kreativitas pada orang-orang yang self- actualized sebagai suatu bentuk tindakan asli, naïf dan spontan sebagaimana yang dijumpai pada anak-anak yang masih polos dan jujur.
15.  Penolakan enkulturasi
Ciri yang terakhir dari orang-orang yang self- actualized ini menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang otonom yang bisa dan berani membuat keputusan-keputusan sendiri, bahkan meskipun keputusan-keputusannya itu berbeda atau bertentangan dengan pendapat umum. [3]










[1] Drs. Agus Sujanto, Drs. Halem Lubis, Drs. Taufik Hadi, Psikologi Kepribadian : Saran-saran Peter Lauster, hlm.159
[2] Calvin S.Hall & Gardner Lindzer, Psikologi kepribadian 2, teori-teori Hilistik (Organisamik-Fenomenologis),hlm.255-258

[3] E. Koswara, teori-teori kepribadian, hlm.138-146

Tidak ada komentar:

Posting Komentar