Bila hidup hanya untuk memikirkanmu
Aku takkan perduli berapa detikpun berlalu
Jendela menjadi pemisah ruang antara dua insan
Gelapnya hari menjadi pertanda
Bahwa hati takkan mungkin kokoh
Waktu seakan tidak
ingin lekang
Dari indahnya harapan
Sayatan pisau
seperti percikan air garam membelah uluh hati
Yang perih karena
Kata takkan mampu ungkapkan
Sedalam apa arti berdiri diantara ribuan manusia
Yang sibuk dengan hingar binger
Sedang, aku masih sendiri
Menunggu kegelisahan hati
Tidak ada komentar:
Posting Komentar