Jurnal Asing “Dyscalculia at an Early Age: Characteristics
and Potential Influence on Socio-Emotional Development”
DISIMPULKAN
OLEH:
Ria Hayati
JURUSAN / Sem : BIMBINGAN KONSELING ISLAM – 2 / V
FAKULTAS : Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
Dosen
Pembimbing
Juli Maini Sitepu, S.Psi, MA
INSTITUT AGAMA
ISLAM NEGERI
SUMATERA UTARA
2014
HASIL
REVIEW
1. Latar Belakang
Diskalkulia mengacu
pada kesulitan belajar
dalam pemahaman konsep angka, symbol, berhitung, atau aritmatika. Kesulitan-kesulitan
ini sering disebut kesulitan
dalam belajar matematika (dyscalculia). Anak berkesulitan belajar matematika
bukan tidak mampu belajar, tetapi mengalami kesulitan tertentu yang
menjadikannya tidak siap belajar. Matematika sering menjadi pelajaran yang
paling ditakuti disekolah.
Pada penelitian ini anak-anak yang mengalami kesulitan belajar
matematika sering tidak tahu dasar nama, konsep dasar matematika, simbol, dan mengalami
kesulitan membedakan mana jumlah lebih besar atau lebih kecil. Biasanya belajar urutan
penghitungan dasar, "satu, dua, tiga dan empat ..." tidak sulit;
hampir semua anak-anak belajar urutan ini, termasuk sebagian besar anak-anak yang mengalami kesulitan belajar
matematika atau diskalkulia.
Misalnya, anak-anak sering mengamati orang
dewasa menghitung dari kiri ke kanan dan menghitung setiap item dalam rangka.
Akibatnya, banyak anak-anak yang percaya menghitung harus persis dengan cara
ini karena menurut mereka lebih fleksibel, tetapi untuk anak-anak yang
mengalami diskalkulia pemahaman ini tertunda satu atau dua tahun.
Anak
dengan gangguan diskalkulia disebabkan oleh ketidakmampuan mereka dalam konsep angka, symbol, berhitung, aritmatika, membaca, imajinasi,
mengintegrasikan pengetahuan dan pengalaman terutama dalam memahami soal-soal
cerita. Anak-anak diskalkulia tidak bisa mencerna fenomena yang masih abstrak.
Biasanya sesuatu yang abstrak itu harus divisualisasikan atau dibuat konkret,
barulah mereka bisa mencerna.
Selain itu, anak berkesulitan belajar
matematika dikarenakan pengelolaan kegiatan belajar yang tidak membangkitkan
motivasi belajar siswa, metode pembelajaran yang cenderung menggunakan cara
konvesional, ceramah dan tugas. Guru kurang mampu memotivasi anak
didiknya. Ketidaktepatan dalam memberikan pendekatan atau strategi
pembelajaran.
2. Teori
Dyscalculia
mengacu pada kesulitan terus-menerus dalam belajar atau pemahaman konsep angka
(misalnya 4> 5), menghitung prinsip (misalnya kardinalitas - bahwa kata
terakhir tag, seperti "empat," singkatan dari jumlah objek dihitung),
atau aritmatika (misalnya mengingat bahwa 2 + 3 = "5").
Kesulitan-kesulitan ini sering disebut cacat matematika.
3. Subjek
Antara 3 sampai 8% dari anak
usia sekolah menunjukkan mengalami
kesulitan dalam
mempelajari beberapa aspek konsep angka, symbol, berhitung, atau aritmatika. Studi lain
menunjukkan bahwa ketidakmampuan belajar matematika atau dyscalculia yang berhubungan
dengan kecerdasan, motivasi atau faktor-faktor lain yang mungkin mempengaruhi
pembelajaran.
Sekitar
setengah dari anak-anak ini juga mengalami kesulitan dalam belajar membaca, menulis atau kurangnya imajinasi,
mengintegrasikan pengetahuan dan pengalaman terutama dalam memahami soal-soal
cerita.
4. Metode
Metode yang digunakan dalam jurnal
ini adalah metode observasi. Ada banyak hal yang perlu dilakukan didaerah ini antara lain: dalam hal
penelitian dasar, penilaian dan diagnosis, dan, tentu saja, remediasi.
5. Hasil
Penelitian
Di kelas pertama, anak-anak dengan diskalkulia sering tidak
tahu dasar nama (misalnya "9" = "sembilan") nomor, dan
mengalami kesulitan membedakan mana jumlah lebih besar atau lebih kecil. Mereka
biasanya akan tahu bahwa 3 lebih dari 2, tetapi tidak tahu bahwa 9 adalah lebih
dari 8. Namun, banyak dari anak-anak ini mengejar ketinggalan di daerah-daerah
nomor pemahaman, setidaknya untuk nomor sederhana.
Biasanya belajar urutan
penghitungan dasar, "satu, dua, tiga dan empat ..." tidak sulit;
hampir semua anak-anak belajar urutan ini, termasuk sebagian besar anak-anak yang mengalami kesulitan belajar
matematika atau diskalkulia.
Misalnya, anak-anak sering mengamati orang
dewasa menghitung dari kiri ke kanan dan menghitung setiap item dalam rangka.
Akibatnya, banyak anak-anak yang percaya menghitung harus persis dengan cara
ini karena menurut mereka lebih fleksibel, tetapi untuk anak-anak yang
mengalami diskalkulia pemahaman ini tertunda satu atau dua tahun.
Keterampilan aritmatika dasar anak-anak
yang mengalami diskalkulia secara ekstensif pada penelitian ini, yang berfokus
pada bagaimana anak-anak memecahkan masalah aritmatika sederhana (misalnya 4 +
5 =?), Seperti menghitung jari atau mengingat jawabannya, telah mengungkapkan
beberapa pola yang sangat konsisten: Pertama, banyak anak-anak dengan
dyscalculia mengalami kesulitan mengingat fakta-fakta aritmatika dasar, seperti
jawaban atas 5 + 3=6. Ini tidak berarti bahwa anak-anak ini sulit untuk
memahami dan tidak mengingat fakta arimatika. Kedua, banyak dari anak-anak ini menggunakan
strategi pemecahan masalah yang belum matang. Sebagai contoh, mereka bergantung
pada jari mereka untuk menghitung dan lebih banyak mengalami kesalahan pada
proses pembelajaran matematika.
Kunci
penelitian ini pada pengembangan social emosional siswa bahwa kecemasan atau
tidak menyukai pelajaran matematika karana takut atau momok matematika sering
kita bayangkan adalah susah untuk dipelajari, dimengerti dan dipahami ini yang
menyebabkan beberapa anak menjadi sulit untuk belajar matematika yang dapat
mengganggu kesadaran tentang bermatematika, dan tidak menutup kemungkinan
diskalkulia dapat mengakibatkan frustasi pada anak.
6. Kesimpulan
Diskalkulia merupakan kesulitan belajar dalam pemahaman konsep angka, symbol, berhitung, atau
aritmatika. Kesulitan-kesulitan ini sering disebut kesulitan dalam belajar matematika (dyscalculia). Anak
berkesulitan belajar matematika bukan tidak mampu belajar, tetapi mengalami
kesulitan tertentu yang menjadikannya tidak siap belajar. Matematika sering
menjadi pelajaran yang paling ditakuti disekolah sehingga banyak anak yang
mengalami kesulitan belajar matematika karna kurang minatnya dengan pelajaran
tersebut atau bisa jadi memang mengalami gangguan pada sarafnya yang tidak
dapat menerima pelajaran matematika dengan baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar