Minggu, 21 Desember 2014

Jurnal Asing "Diskalkulia"



Jurnal Asing  Dyscalculia at an Early Age: Characteristics and Potential Influence on Socio-Emotional Development

DISIMPULKAN
OLEH:
Ria Hayati
                                    JURUSAN / Sem     : BIMBINGAN KONSELING ISLAM – 2 / V
                                    FAKULTAS              : Ilmu Tarbiyah dan Keguruan

                                             Dosen Pembimbing
                                    Juli Maini Sitepu, S.Psi, MA                  
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
SUMATERA UTARA
2014

HASIL REVIEW
1.      Latar Belakang
Diskalkulia mengacu pada kesulitan belajar dalam pemahaman konsep angka, symbol, berhitung, atau aritmatika. Kesulitan-kesulitan ini sering disebut kesulitan dalam belajar matematika (dyscalculia). Anak berkesulitan belajar matematika bukan tidak mampu belajar, tetapi mengalami kesulitan tertentu yang menjadikannya tidak siap belajar. Matematika sering menjadi pelajaran yang paling ditakuti disekolah.
Pada penelitian ini anak-anak yang mengalami kesulitan belajar matematika sering tidak tahu dasar nama, konsep dasar matematika, simbol, dan mengalami kesulitan membedakan mana jumlah lebih besar atau lebih kecil. Biasanya belajar urutan penghitungan dasar, "satu, dua, tiga dan empat ..." tidak sulit; hampir semua anak-anak belajar urutan ini, termasuk sebagian besar anak-anak yang mengalami kesulitan belajar matematika atau diskalkulia.
Misalnya, anak-anak sering mengamati orang dewasa menghitung dari kiri ke kanan dan menghitung setiap item dalam rangka. Akibatnya, banyak anak-anak yang percaya menghitung harus persis dengan cara ini karena menurut mereka lebih fleksibel, tetapi untuk anak-anak yang mengalami diskalkulia pemahaman ini tertunda satu atau dua tahun.
Anak dengan gangguan diskalkulia disebabkan oleh ketidakmampuan mereka dalam konsep angka, symbol, berhitung, aritmatika, membaca, imajinasi, mengintegrasikan pengetahuan dan pengalaman terutama dalam memahami soal-soal cerita. Anak-anak diskalkulia tidak bisa mencerna fenomena yang masih abstrak. Biasanya sesuatu yang abstrak itu harus divisualisasikan atau dibuat konkret, barulah mereka bisa mencerna.
Selain itu, anak berkesulitan belajar matematika dikarenakan pengelolaan kegiatan belajar yang tidak membangkitkan motivasi belajar siswa, metode pembelajaran yang cenderung menggunakan cara konvesional, ceramah dan tugas. Guru kurang mampu memotivasi anak didiknya. Ketidaktepatan dalam memberikan pendekatan atau strategi pembelajaran.



2.      Teori
Dyscalculia mengacu pada kesulitan terus-menerus dalam belajar atau pemahaman konsep angka (misalnya 4> 5), menghitung prinsip (misalnya kardinalitas - bahwa kata terakhir tag, seperti "empat," singkatan dari jumlah objek dihitung), atau aritmatika (misalnya mengingat bahwa 2 + 3 = "5"). Kesulitan-kesulitan ini sering disebut cacat matematika.
3.      Subjek
Antara 3 sampai 8% dari anak usia sekolah menunjukkan mengalami kesulitan dalam mempelajari beberapa aspek konsep angka, symbol, berhitung, atau aritmatika. Studi lain menunjukkan bahwa ketidakmampuan belajar matematika atau dyscalculia yang berhubungan dengan kecerdasan, motivasi atau faktor-faktor lain yang mungkin mempengaruhi pembelajaran.
Sekitar setengah dari anak-anak ini juga mengalami kesulitan dalam belajar membaca, menulis atau kurangnya imajinasi, mengintegrasikan pengetahuan dan pengalaman terutama dalam memahami soal-soal cerita.
4.      Metode
Metode yang digunakan dalam jurnal ini adalah metode observasi. Ada banyak hal yang perlu dilakukan didaerah ini antara lain: dalam hal penelitian dasar, penilaian dan diagnosis, dan, tentu saja, remediasi.
5.      Hasil Penelitian
Di kelas pertama, anak-anak dengan diskalkulia sering tidak tahu dasar nama (misalnya "9" = "sembilan") nomor, dan mengalami kesulitan membedakan mana jumlah lebih besar atau lebih kecil. Mereka biasanya akan tahu bahwa 3 lebih dari 2, tetapi tidak tahu bahwa 9 adalah lebih dari 8. Namun, banyak dari anak-anak ini mengejar ketinggalan di daerah-daerah nomor pemahaman, setidaknya untuk nomor sederhana.
Biasanya belajar urutan penghitungan dasar, "satu, dua, tiga dan empat ..." tidak sulit; hampir semua anak-anak belajar urutan ini, termasuk sebagian besar anak-anak yang mengalami kesulitan belajar matematika atau diskalkulia.
Misalnya, anak-anak sering mengamati orang dewasa menghitung dari kiri ke kanan dan menghitung setiap item dalam rangka. Akibatnya, banyak anak-anak yang percaya menghitung harus persis dengan cara ini karena menurut mereka lebih fleksibel, tetapi untuk anak-anak yang mengalami diskalkulia pemahaman ini tertunda satu atau dua tahun.
Keterampilan aritmatika dasar anak-anak yang mengalami diskalkulia secara ekstensif pada penelitian ini, yang berfokus pada bagaimana anak-anak memecahkan masalah aritmatika sederhana (misalnya 4 + 5 =?), Seperti menghitung jari atau mengingat jawabannya, telah mengungkapkan beberapa pola yang sangat konsisten: Pertama, banyak anak-anak dengan dyscalculia mengalami kesulitan mengingat fakta-fakta aritmatika dasar, seperti jawaban atas 5 + 3=6. Ini tidak berarti bahwa anak-anak ini sulit untuk memahami dan tidak mengingat fakta arimatika. Kedua, banyak dari anak-anak ini menggunakan strategi pemecahan masalah yang belum matang. Sebagai contoh, mereka bergantung pada jari mereka untuk menghitung dan lebih banyak mengalami kesalahan pada proses pembelajaran matematika.
Kunci penelitian ini pada pengembangan social emosional siswa bahwa kecemasan atau tidak menyukai pelajaran matematika karana takut atau momok matematika sering kita bayangkan adalah susah untuk dipelajari, dimengerti dan dipahami ini yang menyebabkan beberapa anak menjadi sulit untuk belajar matematika yang dapat mengganggu kesadaran tentang bermatematika, dan tidak menutup kemungkinan diskalkulia dapat mengakibatkan frustasi pada anak.

6.      Kesimpulan
Diskalkulia merupakan kesulitan belajar dalam pemahaman konsep angka, symbol, berhitung, atau aritmatika. Kesulitan-kesulitan ini sering disebut kesulitan dalam belajar matematika (dyscalculia). Anak berkesulitan belajar matematika bukan tidak mampu belajar, tetapi mengalami kesulitan tertentu yang menjadikannya tidak siap belajar. Matematika sering menjadi pelajaran yang paling ditakuti disekolah sehingga banyak anak yang mengalami kesulitan belajar matematika karna kurang minatnya dengan pelajaran tersebut atau bisa jadi memang mengalami gangguan pada sarafnya yang tidak dapat menerima pelajaran matematika dengan baik.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar